Solusi Limbah dan Mahalnya Pupuk, Bongsor Jadi Andalan Petani

Solusi Limbah dan Mahalnya Pupuk, Bongsor Jadi Andalan Petani
Camat Cikalongwetan, Bandung Barat, Dadang A Sapardan saat mengunjungi produksi pupuk Bongsor di Desa/Kecamatan Cikalongwetan. Dok Camat Cikalongwetan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pagi di Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tak pernah benar-benar sunyi. Bau kandang sapi berpadu dengan embun yang belum sepenuhnya menguap.

Di antara karung-karung pupuk dan tanah yang lembap, Mamang Cipadali berdiri mengaduk limbah yang bagi sebagian orang menjijikkan, namun baginya justru menjadi awal harapan.

Di sudut desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Mamang memandang tumpukan kotoran sapi bukan sebagai masalah, melainkan peluang.

Baca Juga:Perketat Kawasan Wisata, Bupati Bandung Barat akan Tindak Tegas Oknum Getok Harga Parkir di Lembang Pemkab Bandung Barat Gaspol Usulkan UMK 2026 Naik Rp253 Ribu

Dari limbah itulah ia meracik pupuk organik yang kini dikenal dengan nama Bongsor, produk lokal yang perlahan menembus batas wilayah dan menyuburkan lahan pertanian hingga ke Lembang, Pangalengan, dan Sumedang.

“Awalnya hanya ingin mengurangi limbah kandang,” tutur Mamang sambil mengaduk bahan fermentasi. Tangannya nyaris tak pernah lepas dari sekop dan karung pupuk. “Tapi ternyata banyak petani yang cocok dan terus pesan,” sambungnya.

Pupuk Bongsor lahir dari proses sederhana namun penuh ketelatenan. Kotoran sapi dari kandang penggemukan di Desa Cikalongwetan difermentasi secara alami, lalu dicampur dengan limbah sayuran.

Tak ada mesin besar atau formula pabrik, yang ada hanya waktu, kesabaran, dan keyakinan bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk memulihkan tanah.

Bagi Mamang, pupuk ini bukan sekadar produk dagang. Ia menjadi jawaban atas dua persoalan sekaligus limbah peternakan yang menumpuk dan mahalnya pupuk bagi petani kecil.

“Harga pupuk pabrikan sekarang berat bagi petani. Kalau kami bisa bantu dengan harga lebih murah tapi kualitas tetap bagus, itu sudah cukup,” ujarnya.

Perlahan, kabar tentang pupuk Bongsor menyebar dari mulut ke mulut. Petani lokal mulai mencoba, lalu memesan kembali. Tak lama berselang, permintaan datang dari luar daerah.

Baca Juga:Jelang Natal, Tim Jibom Polda Jabar Sterilisasi Gereja Katedral Bandung dengan Alat KBRFarhan Janji Cari Titik TOD Relokasi Terminal Cicaheum Imbas BRT Bandung

Lembang dengan lahan hortikulturanya, Pangalengan dengan kebun sayurannya, hingga Sumedang menjadi tujuan distribusi pupuk organik buatan Mamang.

Namun, kesuksesan itu datang bersama keterbatasan. Dengan lahan dan fasilitas yang ada, Mamang belum mampu memenuhi seluruh permintaan.

Dari total kotoran sapi yang dihasilkan kandang penggemukan di desanya, baru sekitar 40 persen yang dapat diolah menjadi pupuk.

0 Komentar