Waspada! Jaga Perbatasan Indonesia–Timor Leste, demi Ketahanan Pangan Nasional!

Waspada! Jaga Perbatasan Indonesia–Timor Leste, demi Ketahanan Pangan Nasional!
Presiden Prabowo Subianto bersama seluruh Anggota Kabinet Merah Putih menjadikan pembangunan pertanian, dan peternakan sebagai basis pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan
0 Komentar

Hewan pembawa biasanya tampak sehat, tetapi dapat menyebarkan virus kepada sapi yang dipelihara dalam jarak dekat. Gejala MCF dapat bervariasi, namun beberapa tanda klinis yang sering muncul antara lain: demam tinggi dan depresi, kekeruhan kornea mata hingga tampak “berkaca” atau kebiruan, leleran kental dari mata dan hidung, luka dan keropeng pada moncong, mulut, ambing, dan puting, pembengkakan kelenjar limfe, kesulitan bernapas, gangguan koordinasi, hingga kematian mendadak.

Tidak adanya vaksin yang efektif dan terbatasnya pilihan pengobatan menjadikan pencegahan sebagai kunci utama pengendalian MCF. Belajar dari PMK, Pemerintah

Wajib Memitigasi Potensi Wabah MCF

Pengalaman pahit wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 2022 seharusnya menjadi alarm permanen.

Baca Juga:Ridwan Kamil Digugat Cerai Atalia Praratya, Sidang Digelar 17 Desember 2025Persib Kalah Dari Malut United, Thom Haye Akui Kecewa

Keterlambatan deteksi, lemahnya pengawasan lalu lintas ternak, serta adanya praktik ilegal dan kepentingan sesaat memperparah penyebaran penyakit dan menimbulkan kerugian besar bagi peternak dan negara. Situasi di Timor Leste hari ini harus dibaca sebagai peringatan dini bagi Indonesia, khususnya kawasan perbatasan di NTT.

Kita tidak boleh menunggu sampai kasus MCF muncul di kandang-kandang rakyat baru kemudian bereaksi. Penguatan karantina hewan, pengetatan lalu lintas ternak resmi maupun ilegal, serta respons cepat terhadap laporan kasus klinis di lapangan wajib segera diimplementasikan.

Sistem kewaspadaan dini harus berjalan sebelum MCF menyeberang. Sapi Bali sebagai plasma nutfah unggulan Indonesia memiliki peran penting bagi ketahanan pangan dan ekonomi peternak. Namun, sapi Bali juga rentan terhadap MCF.

Kasus MCF pada sapi Bali yang pernah dilaporkan di Lombok menunjukkan pola yang konsisten: keberadaan domba dewasa di sekitar kandang sapi, munculnya gejala khas seperti kekeruhan kornea, lesi pada mukosa, dan temuan vaskulitis (radang pada pembuluh darah) pada berbagai organ melalui pemeriksaan histopatologi (pemeriksaan organ menggunakan mikroskop).

Konfirmasi laboratorium menguatkan bahwa penularan terjadi dari domba pembawa virus yang dipelihara berdekatan dengan sapi. Pengalaman ilmiah dan eviden tersebut cukup menjadi dasar untuk mengatakan: jika pengaturan kepadatan dan campuran spesies ternak di lapangan tidak diatur dengan baik, maka risiko kejadian serupa di NTT sangat nyata.

0 Komentar