JABAR EKSPRES – Kawasan Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat kembali menjadi perhatian publik. Salah satu ikon kuliner populer di lokasi ini, yaitu deretan pedagang Cuanki, kini menuai kritik setelah aktivitasnya dinilai semakin mengganggu kenyamanan warga, khususnya para jamaah masjid. Fenomena ini memperlihatkan benturan antara pesatnya perkembangan wisata kuliner dan pentingnya menjaga ketertiban ruang publik.
Kondisi kawasan yang kerap dipenuhi pedagang, antrean pembeli, serta sampah sisa makanan dianggap mengurangi kekhusyukan ibadah, terutama pada waktu Subuh ketika lingkungan masjid seharusnya berada dalam suasana tenang dan bersih. Keluhan itu pun sampai ke telinga Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
“Saya sudah dengar langsung dari warga yang merasa terganggu saat akan salat Subuh karena kondisi sekitar masjid menjadi tidak nyaman,” ujar Farhan, saat ditemui Selasa (9/12).
Baca Juga:Hutan Kritis, Ancaman Bencana Makin Nyata!Transportasi Jawa Belum Merata, Bandung Masuk Sorotan Soal Wacana Kereta Cepat ke Surabaya
Ia mengakui bahwa persoalan tersebut bukan hal baru. Sejumlah arahan telah diberikan kepada jajaran terkait, namun kondisi di lapangan masih belum berubah signifikan.
“Saya sudah pernah sampaikan ini kepada Kasatpol PP, tapi rupanya masih terjadi. Berarti penegakannya perlu lebih digencarkan,” tegasnya.
Farhan menambahkan, bahwa penataan bukan berarti penghapusan pedagang. Pemkot tetap mengakui keberadaan Cuanki Pusdai sebagai magnet kuliner Bandung. Namun, pengelolaan ruang publik harus tetap menjadi prioritas.
Suara warga terus menguat dalam beberapa minggu terakhir. Sejumlah jamaah yang rutin beribadah di Pusdai mengeluhkan suasana sekitar masjid yang semakin tidak kondusif.
“Pagi itu harusnya tenang. Tapi beberapa kali saya lihat area masjid masih kotor, ada sisa-sisa makanan, dan pedagang mulai beraktivitas terlalu dekat dengan area ibadah,” ujar Riko (31), warga sekitar yang sering salat Subuh di masjid Pusdai.
Keluhan lain datang dari Siti (36), seorang ibu rumah tangga yang kerap melewati area tersebut setiap pagi. Ia menilai pedagang seharusnya bisa lebih tertib agar tidak menimbulkan kesan semrawut.
“Kami paham pedagang mencari rezeki, tapi tetap harus ada batas. Kalau semuanya tertata, warga nyaman, pedagang pun tetap bisa jualan,” tuturnya.
