JABAR EKSPRES – Seruan agar sekolah benar-benar menjadi tempat aman dari predator berseragam kembali menggema. Kali ini, suara itu datang dari para pelajar sendiri.
Melalui unggahan akun Aliansi Pelajar Cimahi di Instagram, mereka menuntut transparansi dan tindakan tegas terhadap dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang guru di SMKN 3 Kota Cimahi.
Dalam unggahan yang menjadi sorotan publik itu, mereka menyinggung budaya diam (culture of silence) yang kerap membuat kasus serupa tenggelam tanpa kejelasan.
Baca Juga:Erick Thohir Targetkan Timnas Indonesia Tembus Piala Dunia 2030 dan 100 Besar FIFACristiano Ronaldo Isyaratkan Pensiun: Akui Sudah Siap, Tapi Akan Sulit
Pelajar menegaskan, keselamatan dan keamanan siswa harus ditempatkan di atas reputasi lembaga pendidikan.
“Institusi harus berani mengutamakan keselamatan anak di atas nama baik,” tulis akun tersebut.
Mereka juga mengingatkan agar korban tidak disalahkan, melainkan diberi dukungan penuh melalui mekanisme pelaporan yang aman dan anonim.
“Seragam guru seharusnya hanya dikenakan oleh mereka yang benar-benar layak, bukan oleh orang yang menghancurkan masa depan siswa,” tulis dalam pernyataan tersebut.
Saat dikonfirmasi, Waka Kurikulum SMKN 3 Cimahi, Ade Sudrajat membenarkan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah cepat setelah laporan mencuat.
“Kita dari sekolah bergerak cepat. Langsung dipanggil oknumnya, kemudian kita BAP, dan dari hasil BAP itu beliau dengan sadar dan tanpa tekanan mengundurkan diri dari SMK 3 Cimahi,” ujar Ade kepada saat ditemui awak media, Kamis (6/11/25).
Ia menegaskan, guru yang dimaksud benar mengajar di sekolah tersebut. “Guru di sini, dan sudah mengundurkan diri per tanggal 31 Oktober. Tapi karena itu hari Sabtu, maka efektifnya per 3 November sudah bukan bagian dari SMK Negeri 3 Cimahi lagi,” katanya.
Baca Juga:Bellingham Cetak Sejarah Baru di Liga Champions, Lewati Rekor Legenda Real MadridCristiano Ronaldo Jagokan Arsenal Juara Premier League Musim Ini!
Ade menyebut, guru tersebut berstatus honorer dan mengajar mata pelajaran agama sejak tahun 2017. Ketika ditanya soal jumlah korban, ia menyebut baru satu siswa yang teridentifikasi. “Kalau untuk korban, ya yang kemarin aja, satu,” ujarnya.
Menurutnya, laporan awal datang bukan dari korban langsung, melainkan dari teman korban. “Siswa, temannya yang melapor. Bukan yang bersangkutan,” kata Ade.
Ade tak menampik bahwa kasus ini mencuat setelah ramai dibicarakan di media sosial. Namun, ia menegaskan sekolah sudah menindaklanjuti sesuai prosedur internal.
