Di Balik Gunung Es HIV Bandung: Luka Psikologis, Stigma, dan Asa yang Tak Pernah Padam

Ilustrasi: Seorang anak melihat mural bertemakan hiv aids di bawah Jembatan Layang Prof Mochtar Kusumaatmadja,
Ilustrasi: Seorang anak melihat mural bertemakan hiv aids di bawah Jembatan Layang Prof Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Rabu (29/10). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

“Saya tahu positif HIV waktu umur 27. Saat itu rasanya seperti dunia runtuh. Saya tutup diri, bahkan sempat tidak mau kontrol ke rumah sakit karena takut ketemu orang,” ungkap Rian.

Selama hampir setahun, Rian berjuang melawan ketakutan dan rasa malu. Ia baru mulai bangkit setelah bertemu komunitas sesama ODHA di Bandung.

“Saya mulai ikut kelompok dukungan di puskesmas. Dari situ saya belajar bahwa hidup tidak berakhir. Justru saya jadi lebih disiplin dan mulai bantu edukasi teman-teman saya soal pentingnya tes,” ujarnya.

Baca Juga:Gunung Es HIV/AIDS di Bandung: Farhan Sebut Kasus Riil Bisa Capai 70 Ribu OrangKPA Kota Banjar Catat 376 Kasus HIV/AIDS, Kelompok LSL Paling Rentan

Menurutnya, banyak orang di luar sana yang belum berani memeriksakan diri karena takut dicap “nakal” atau “berdosa”.

“Banyak yang belum tahu, HIV itu bisa diobati. Asal rutin minum ARV, kita bisa hidup normal. Tapi stigma masyarakat bikin orang lebih memilih diam. Saya harap Pemkot Bandung bisa bantu edukasi, supaya orang tidak takut periksa,” tambahnya.

Kini, Rian aktif menjadi relawan di salah satu LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS di Bandung. Ia rutin membagikan informasi pencegahan serta mendampingi pasien baru yang mengalami depresi.

“Saya tidak mau lagi hanya bersembunyi. Saya ingin orang tahu, kami bukan untuk dijauhi. Kami manusia yang juga ingin hidup sehat dan diterima,” tutupnya.

Fenomena gunung es kasus HIV/AIDS di Kota Bandung menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar urusan medis, tetapi juga masalah psikologis, sosial, dan kultural.

Pemkot Bandung bersama lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan komunitas masyarakat diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam upaya edukasi, pendampingan, serta penghapusan stigma.

Seperti disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, “Ini persoalan kemanusiaan. Orang dengan HIV bukan untuk dijauhi, tapi untuk dirangkul.” pungkasnya (Dam)

0 Komentar