JABAR EKSPRES – Memasuki dunia perguruan tinggi, mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Mereka juga perlu membangun karakter yang kuat, mampu bertahan menghadapi proses, tetap rendah hati ketika meraih keberhasilan, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026 yang berlangsung di Gedung Gymnasium UPI, Rabu (19/8/2026).
Kuliah umum bertema “Future Ready Generation: Berkarya, Berinovasi, dan Berdampak” itu diikuti ribuan mahasiswa baru, termasuk mahasiswa asing dari 15 negara.
Baca Juga:Gebyar HUT RI ke-81 IKA Smandel Medan Perantauan: Satukan Alumni, Perkuat Persaudaraan, Tebar KepedulianMSD Indonesia Gagas Edukasi Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., yang hadir memberikan kuliah umum, mengingatkan mahasiswa baru bahwa perjalanan pendidikan tinggi merupakan proses panjang yang tidak selalu berjalan mudah.
Menurutnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik maupun kemampuan intelektual. Ada karakter yang harus terus dibangun agar mahasiswa mampu bertahan ketika menghadapi kegagalan, tekanan, maupun berbagai perubahan selama menjalani perkuliahan.
Prof. Brian memperkenalkan tiga karakter yang dinilai penting dimiliki mahasiswa, yakni grit, persistence, dan perseverance.
Grit berkaitan dengan keteguhan seseorang dalam mengejar tujuan. Sementara persistence merupakan kegigihan untuk terus mencoba meskipun mengalami kegagalan. Adapun perseverance berkaitan dengan kemampuan untuk bertahan dalam proses ketika menghadapi kesulitan.
Ketiga karakter tersebut, kata dia, menjadi bekal penting karena kehidupan mahasiswa akan diwarnai berbagai tantangan, mulai dari tugas perkuliahan, ujian, perubahan lingkungan, hingga tuntutan untuk terus mengembangkan kemampuan.
Karena itu, mahasiswa tidak boleh menjadikan satu kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, kegagalan perlu dipandang sebagai bagian dari proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Selain ketangguhan, Prof. Brian juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak kehilangan sikap rendah hati ketika berhasil.
Baca Juga:Konektivitas Digital Kembali Normal 100%, TelkomGroup Tuntaskan Perbaikan Infrastruktur Pascagempa NTTGala Premiere Perdana di Bandung, Film ‘Baby Udon’ Bikin Penonton Penasaran dengan Kisah KazKaz
Menurutnya, keberhasilan bukanlah akhir dari proses belajar. Justru ketika seseorang merasa telah menguasai sesuatu, ia tetap harus membuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.
“Jadilah generasi yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi berani memimpikan perubahan itu. Kemudian tetaplah rendah hati kalau berhasil, tetaplah belajar meskipun Anda sudah merasa tahu, merasa menguasai,” ujar Prof. Brian.
