JABAR EKSPRES – Di tengah meningkatnya ragam penyakit serta menurunnya kesadaran akan pentingnya imunisasi pascapandemi, Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah strategis dengan memperkenalkan antigen baru dalam rangkaian Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2025.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk upaya preventif yang tidak bisa ditunda.
Menurutnya, imunisasi bukan sekadar soal jarum suntik atau dosis vaksin, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan kesehatan masyarakat.
Baca Juga:Alex Pastoor Akui Tak Kaget Dipecat dari Timnas IndonesiaThom Haye Makin Padu, Persib Siap Tempur Lawan Selangor FC di ACL 2
“Dengan perkembangan teknologi medis dan farmasi, ini dapat terus mendorong optimalisasi imunisasi di kalangan anak sekolah, sehingga generasi muda dapat lebih terlindungi dari berbagai macam penyakit,” ujarnya saat ditemui di Pemkot Cimahi, Rabu (21/10/2025).
Adhitia menjelaskan bahwa pemberian antigen baru, termasuk vaksin Human Papilloma Virus (HPV), tidak hanya menyasar sekolah formal, tetapi juga sekolah nonformal dan sekolah rakyat.
Pendekatan ini dianggap sebagai langkah inklusif, guna memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan imunisasi yang sama.
“Dinkes telah menyiapkan pemberian antigen ini, bukan hanya untuk sekolah-sekolah formal saja, namun juga sekolah non-formal dan sekolah rakyat. Ini penting untuk membentuk generasi emas yang sehat sejak dini,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Adhitia menekankan target ambisius yang ingin dicapai, yakni cakupan imunisasi di atas 90 persen.
Menurutnya, angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol komitmen kuat untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) yang nyata di tengah masyarakat.
“Kerja sama seluruh stakeholder mutlak diperlukan. Kami ingin cakupan imunisasi bisa mencapai di atas 90 persen agar seluruh anak terlindungi,” tegasnya.
Baca Juga:Kontroversi Disiplin Ala Militer di Jabar, Antara Pembinaan Karakter atau Salah Arah?Shin Tae-yong Siap Kembali Tangani Timnas Indonesia, Tapi Belum Dihubungi PSSI
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Dwi Hadi Isnalini, menyoroti pentingnya vaksin HPV yang kini diberikan dengan regimen baru, yakni cukup satu dosis.
Langkah ini mengacu pada rekomendasi WHO dan menjadi bagian dari strategi nasional pencegahan kanker serviks, salah satu penyebab utama kematian perempuan di Indonesia.
“Jika sebelumnya diberikan dua dosis, kini cukup satu dosis yang menyasar anak perempuan kelas 5 SD atau usia 11 tahun. Ini adalah upaya strategis membangun imunitas sejak dini terhadap infeksi HPV,” jelasnya.
