“Kalau SOP sudah banyak, tinggal implementasinya di lapangan. Juknis terus diperbaiki karena memang ada versioning,” ujar Sony.
Ia menambahkan, penyempurnaan juklak dan juknis dilakukan agar tenaga sanitarian memiliki pedoman kerja yang jelas dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kesempurnaan itu tidak terjadi otomatis. Kesempurnaan itu berproses,” tuturnya.
Baca Juga:Alex Pastoor Ungkap Isi Kesepakatan Rahasia dengan PSSI Usai Pemutusan KontrakBojan Hodak Waspadai Kebangkitan Selangor FC, Julio Cesar Siap Perkuat Lini Pertahanan Persib
Lebih jauh, Sony menegaskan bahwa pembaruan pedoman teknis ini juga diarahkan untuk mendukung tujuan yang sama dengan Kemenkes, yakni zero accident.
“Zero accident adalah target kita semua. Kita tidak bicara angka, tapi bagaimana perbaikan terus dilakukan agar tidak ada kejadian keracunan lagi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan limbah di setiap SPPG agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
“IPAL itu bisa bermacam-macam. Rumah yang punya septic tank, itu juga IPAL. Jadi yang penting limbah diolah dengan baik agar tidak menimbulkan bau atau pencemaran,” katanya.
Sony berharap SPPG bisa menjadi contoh penerapan sanitasi dan kebersihan lingkungan yang baik.
“Kalau semua SPPG bisa menjaga kebersihan, air buangan tidak bau, dan limbah diolah dengan benar, sungai-sungai seperti Cikapundung juga akan kembali bersih,” ujarnya.
