Rutilahu di Bandung Masih Belum Merata: Warga Ciwastra Hidup di Rumah Tak Layak dan BAB di Sungai

Rutilahu di Bandung Masih Belum Merata: Warga Ciwastra Hidup di Rumah Tak Layak dan BAB di Sungai
Foto. Ilustrasi Rutilahu di Kota Bandung. (Dok. Jabarekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di sebuah gang sempit di kawasan Ciwastra, Kecamatan Buahbatu, deretan rumah semi permanen berdiri rapat tanpa halaman. Di antara rumah-rumah itu, masih banyak keluarga yang harus hidup tanpa fasilitas sanitasi memadai, bahkan tergolong sebagai rumah tidak layak huni (rutilahu).

Fenomena ini menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam upaya penataan lingkungan dan perumahan di Kota Bandung, meskipun pemerintah daerah setiap tahun menyalurkan program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) menargetkan perbaikan 1.775 rumah tidak layak huni (rutilahu) sepanjang 2025.

Baca Juga:Berkat Program Rutilahu Polsek Pameungpeuk, Eulis Akhirnya Bisa Tinggal Nyaman di Rumah Baru25 Tahun Tinggal Bersama 9 Anggota Keluarga, Ojol di Ciparay Akhirnya Dapat Bantuan Rutilahu Polresta Bandung

Setiap unit rumah mendapatkan bantuan senilai sekitar Rp25 juta, terdiri dari material bangunan, ongkos tukang, serta biaya administrasi pajak.

Hingga pertengahan 2025, baru sekitar 690 rumah yang telah selesai direhabilitasi. Sisanya masih dalam proses verifikasi dan pencairan, atau menunggu jadwal pelaksanaan. Anggaran total yang telah disiapkan mencapai lebih dari Rp40 miliar dari APBD Kota Bandung.

Meskipun angka itu tampak besar, jika dibandingkan dengan jumlah rumah tak layak di seluruh wilayah kota yang diperkirakan masih belasan ribu unit, maka capaian program tersebut baru menyentuh sebagian kecil dari kebutuhan riil masyarakat pra sejahtera.

Kawasan Ciwastra menjadi salah satu wilayah yang paling kompleks. Selain kepadatan penduduk tinggi, banyak rumah berdiri di bantaran saluran air dan gang sempit tanpa akses MCK.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan bahkan mengakui bahwa praktik BABS (buang air besar sembarangan) di kawasan itu masih tergolong tinggi.

“Ada satu hal yang mengkhawatirkan. Di Ciwastra itu BABS-nya masih lumayan tinggi. Jadi kita akan melakukan sosialisasi untuk septic tank komunal,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).

Farhan menegaskan, Pemkot Bandung akan menindaklanjuti kondisi tersebut dengan membangun septic tank komunal sebagai solusi sanitasi warga.

Baca Juga:Ancaman Perlambatan Perbaikan Rutilahu di Cimahi, Bantuan Pusat dan Provinsi Belum JelasRibuan Rumah Tidak Layak Huni Masih Membayangi, Program Perbaikan Rutilahu Kota Cimahi Belum Maksimal?

“Nggak boleh bersabar. Karena kita sekalian mau beresin saluran air itu, sekalian beresin masalah MCK,” katanya.

Namun, pelaksanaan di lapangan kerap terkendala keterbatasan lahan, status tanah yang belum jelas, serta biaya tambahan di luar paket bantuan Rutilahu.

0 Komentar