JABAR EKSPRES – Setiap sore, anak-anak di kawasan Cicadas terpaksa bermain bola di lahan jalan tempat lalu lalang kendaraan. Diakui, hal ini imbas dari banyaknya pembangunan hunian yang tak terkontrol dan masif dilakukan.
“Dulu masih ada lapangan kecil di ujung gang, sekarang sudah jadi ruko, Bandung makin sempit. Kalau panas, napas terasa sesak.” kata Rohimat, Warga di gang Asep Berlian, Minggu (19/10).
Kisah Rohimat hanyalah satu dari ribuan potret keseharian warga Bandung yang kehilangan ruang hijau. Kota yang dulu dijuluki kota kembang itu kini justru bergulat dengan krisis ruang terbuka hijau (RTH).
Baca Juga:Walhi Nilai Pengelolaan RTH Bandung Mandek, Pemerintah Dinilai Lemah Jalankan Mandat EkologiDisperkimtan Kabupaten Sumedang Ingatkan Developer Sediakan RTH Sesuai Aturan di Perumahan
Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung, luas RTH tahun 2025 hanya sekitar 12,8 persen dari total wilayah kota, sekitar 2.050 hektare dari 16.729 hektare.
Padahal, Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 menegaskan bahwa proporsi ideal RTH adalah 30 persen, dengan pembagian 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. Artinya, Bandung baru memenuhi kurang dari setengah target nasional.
Minimnya RTH berdampak langsung pada kenyamanan dan kesehatan warga. Data BMKG Stasiun Geofisika Bandung menunjukkan, suhu rata-rata kota meningkat dari 24,7 derajat celcius pada 2015 menjadi 26,3 derajat celcius pada 2024. Daerah padat seperti Kiaracondong dan Cicadas bahkan mencatat suhu harian yang menembus 33 derajat celcius.
Menurut pakar tata ruang dari UPI, Yudi Asep, hilangnya ruang hijau memperburuk fenomena urban heat island, efek pulau panas perkotaan yang meningkatkan suhu lokal secara signifikan.
“RTH bukan hanya soal estetika. Ia berfungsi menyerap air, menurunkan suhu, dan menyehatkan udara. Kekurangannya membuat kota makin tidak ramah bagi manusia,” jelasnya.
Selain suhu, berkurangnya lahan resapan air turut memperparah banjir musiman. Data Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga menunjukkan, 19 titik rawan banjir kini aktif setiap musim hujan, sebagian besar berada di wilayah yang kehilangan fungsi ruang hijau.
Urbanisasi cepat menjadi penyebab utama. Permintaan perumahan, apartemen, dan area komersial menekan lahan kosong yang tersisa di Kota Bandung.
Baca Juga:DPKP Bandung Sebut Kenaikan RTH Tiap Tahun Hanya Nol Koma SekianDisperkimtan Sumedang Ingatkan Developer Perumahan: Utamakan RTH, Fasum, dan Keselamatan Warga
“Banyak lahan berubah jadi bangunan, bahkan taman kecil di perumahan kadang dijadikan tempat usaha. Kami paham kota harus maju, tapi jangan sampai warga kehilangan ruang hidup.” kata Evi (36) warga Gedebage.
