JABAR EKSPRES – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus memperkuat upaya pencegahan penyakit rabies atau yang dikenal sebagai penyakit anjing gila. Tahun ini, Dispernakan menargetkan vaksinasi terhadap 4.000 hewan penular rabies (HPR) dari total populasi sekitar 7.904 ekor di wilayah Bandung Barat.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan World Rabies Day (WRD) atau Hari Rabies Sedunia yang diperingati setiap tahun. Pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara on the spot di berbagai desa dan komunitas, disertai layanan kastrasi hewan serta sosialisasi kepada masyarakat.
“Upaya ini bertujuan mencegah penularan rabies sejak dini. Vaksinasi dilakukan langsung di lapangan agar menjangkau lebih banyak hewan, terutama anjing dan kucing peliharaan masyarakat,” ujar Wiwin, Kamis (16/10/2025).
Baca Juga:Pemkot Cimahi Perkuat Kader Zoonosis hingga Tingkat Kelurahan untuk Pantau RabiesCegah Rabies dan Flu Burung, Pemkot Cimahi Gencarkan Vaksinasi Gratis Hewan Peliharaan
Selain vaksinasi, lanjut Wiwin, pihaknya juga gencar melakukan edukasi tentang pencegahan rabies, tanda-tanda hewan terinfeksi, serta tata laksana penanganan gigitan hewan. Edukasi diberikan melalui sekolah-sekolah, komunitas pecinta hewan, dan kelompok masyarakat di tingkat desa.
“Kami ingin meningkatkan public awareness atau kewaspadaan masyarakat terhadap rabies. Banyak warga yang belum tahu bahwa penanganan cepat setelah tergigit hewan sangat penting untuk mencegah infeksi virus yang mematikan ini,” jelasnya.
Hingga Oktober 2025, Dispernakan KBB menangani 93 kasus gigitan hewan penular rabies. Dari seluruh kasus tersebut, hasil observasi menunjukkan tidak ada satupun yang positif rabies.
Wiwin menjelaskan, rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan peradangan otak hingga kematian. Virus ini ditularkan melalui air liur hewan terinfeksi, umumnya lewat gigitan.
Beberapa hewan yang dapat menularkan virus rabies antara lain anjing, kucing, musang, monyet, kera, dan kelelawar. Gejala hewan terinfeksi biasanya berupa perubahan perilaku menjadi agresif, air liur berlebihan, kesulitan menelan, kejang, hingga kelumpuhan.
“Hewan yang terinfeksi sering bersembunyi di tempat gelap atau menunjukkan perilaku aneh seperti menggigit benda-benda di sekitarnya,” katanya.
Dispernakan Bandung Barat juga memperkuat kerja sama lintas sektor dengan berbagai pihak di tingkat kabupaten, provinsi, dan kementerian untuk mendukung target Jawa Bebas Rabies 2029 atau JawaRa 2029.
