Banjir Sampah kian Mencekik, Kota Bandung Hadapi Krisis Iklim

Kota Bandung
PENGGIAT LINGKUNGAN: Sejumlah komunitas saat workshop Climate Fresk Bandung: Community Group Series di Toko Organis YPBB Jalan Cikutra Baru, Kota Bandung, Sabtu, 11 Oktober 2025. 
0 Komentar

BANDUNG – Kota Bandung tengah berhadapan dengan krisis pengelolaan sampah yang memperparah dampak perubahan iklim. Koordinator Tim Climate Fresk Bandung, Yobel Novian Putra menyebutkan, sekitar 800 ton sampah organik dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti setiap hari.

Sampah yang membusuk di TPA menghasilkan gas metana — gas rumah kaca berumur pendek yang 80 kali lebih kuat dari karbon dioksida dalam menjebak panas selama 20 tahun pertama. Akumulasi metana di TPA merupakan salah satu kontributor kebakaran berkepanjangan di TPA tersebut pada tahun 2023.

“Nutrisi dari sampah organik ini terbuang sia-sia, padahal bisa diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian lokal,” ungkap Yobel kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.

Baca Juga:Unisba Dorong Sertifikasi UMKM Nasional Melalui Pelatihan Produk HalalIndonesia Menari 2025: 700 Penari Memukau Bandung

Dia menjelaskan, Climate Fresk merupakan gerakan global berbasis relawan yang bergerak di bidang edukasi iklim. Melalui metode permainan kartu berbasis sains dari laporan IPCC — suatu badan ilmiah di bawah PBB yang menilai dan merangkum penelitian global tentang perubahan iklim, komunitas tersebut kini hadir di Bandung untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dengan cara yang interaktif dan mudah dipahami.

Yobel menjelaskan, Indonesia memiliki tantangan besar karena masuk dalam daftar 10 besar negara penghasil emisi gas rumah kaca di dunia, selain karena populasi yang besar, sebagian besar berasal dari aktivitas industri, penggunaan lahan, dan deforestasi. Berdasarkan data pada 2019-2020, riset menunjukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah climate deniers tertinggi di dunia.

Yobel mengaku prihatin bagi mereka yang tidak percaya perubahan iklim itu nyata atau tidak yakin bahwa manusia menjadi penyebabnya. “Perubahan iklim bukan sekadar cuaca ekstrem, tetapi perubahan pola iklim global yang memicu kenaikan suhu bumi, banjir, kekeringan, hingga gagal panen,” papar Yobel.

Ia mencontohkan, gagal panen kopi robusta di Indonesia, Brasil, dan Vietnam akibat cuaca ekstrem telah menjadi bukti nyata dampak krisis iklim. Di Bandung, banjir di wilayah seperti Lembang, yang dulunya jarang terjadi, kini menjadi hal biasa. Begitupun di tengah Kota Bandung, banjir bukan berkurang malah semakin parah. “Orang sering bilang cuaca buruk, padahal ini bukan soal cuaca, tapi iklim yang berubah,” tegasnya.

0 Komentar