Banjir Sampah kian Mencekik, Kota Bandung Hadapi Krisis Iklim

Kota Bandung
PENGGIAT LINGKUNGAN: Sejumlah komunitas saat workshop Climate Fresk Bandung: Community Group Series di Toko Organis YPBB Jalan Cikutra Baru, Kota Bandung, Sabtu, 11 Oktober 2025. 
0 Komentar

Pekerja lapangan, seperti pengemudi ojek online, juga menghadapi risiko lebih tinggi akibat cuaca panas ekstrem, berbeda dengan pekerja kantoran yang bekerja di ruangan ber-AC. “Bandung kini jauh lebih panas dibandingkan 20-30 tahun lalu. Generasi sebelumnya bilang Bandung dulu dingin. Efek ini terakumulasi selama puluhan tahun,” ujar Yobel.

Dia mencatat, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer meningkat tajam sejak era industrialisasi, terutama sejak 1980-an, akibat aktivitas manusia seperti transportasi, industri, dan kebiasaan konsumtif seperti belanja online yang memicu emisi karbon lebih besar.

Climate Fresk Bandung mendorong aksi nyata melalui kegiatan bulanan di Toko Organis, sebuah toko belanja curah yang mempromosikan produk lokal dan sistem isi ulang untuk mengurangi sampah plastik. “Belanja curah adalah aksi iklim. Kami juga punya komposter dan protokol zero waste office untuk memastikan acara kami bebas sampah,” jelas Yobel.

Baca Juga:Unisba Dorong Sertifikasi UMKM Nasional Melalui Pelatihan Produk HalalIndonesia Menari 2025: 700 Penari Memukau Bandung

Ia mencontohkan, penggunaan wadah sendiri untuk belanja isi ulang telah menjadi standar operasional di toko tersebut, mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai. Adapula model tukar wadah dari merek Alner yang menyedia sistem kemasan guna ulang untuk kebutuhan sehari-hari seperti produk kebersihan, perawatan badan, dan bahan makanan & minuman. Namun, aksi individu saja tidak cukup.

Yobel menyerukan perlunya sistem yang mendukung, seperti penyediaan transportasi publik yang memadai dan pengelolaan air bersih yang lebih baik. “Kalau saya ingin naik angkot tapi rutenya tidak ada, inisiatif saya sia-sia. Begitu juga dengan sampah, tanpa sistem, usaha kami terbatas,” ujarnya.

Yobel juga mengajak masyarakat untuk menuntut kebijakan publik yang mendukung aksi iklim, seperti pengelolaan sampah organik dan transisi ke energi terbarukan. Bagi pemerintah, Yobel menyarankan pendekatan lintas sektoral. “Perubahan iklim bukan hanya urusan Dinas Lingkungan Hidup, tapi juga Dinas Pangan, Sosial, dan lainnya. Kita perlu koordinasi dan kepemimpinan daerah yang kuat,” tegasnya.

Dia mencontohkan, pengelolaan sampah organik bisa mengatasi emisi sekaligus mendukung ketahanan pangan, tetapi selama kebijakan masih sektoral, masalah tidak akan selesai. Sejak aktif satu setengah tahun lalu, Climate Fresk Bandung telah melibatkan lebih dari 200 peserta dan setidaknya 10 fasilitator dari berbagai latar belakang. “Kami tidak hanya ingin menambah pengetahuan, tapi mendorong aksi iklim yang nyata,” kata Yobel.

0 Komentar