JABAR EKSPRES – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi terus memperkuat langkah mitigasi dalam menghadapi potensi bencana yang mengancam wilayahnya.
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), terdapat sepuluh jenis ancaman bencana yang terdeteksi di Kota Cimahi, mulai dari banjir, banjir bandang, gempa bumi, cuaca ekstrem, kekeringan, gagal teknologi, hingga paparan abu vulkanik.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko bencana, khususnya di wilayah padat penduduk.
Baca Juga:Masa Depan Patrick Kluivert di Kursi Pelatih Timnas Indonesia Abu-Abu!Persib Genjot Fisik Pemain di Jeda Internasional
Salah satu langkah konkret yang akan direalisasikan pada tahun 2026 adalah pemasangan sistem peringatan dini (Early Warning System atau EWS) di sejumlah titik strategis, terutama di kawasan rawan banjir dan aliran sungai besar.
“Untuk tahun depan kita mulai memasang sistem peringatan dini atau EWS dengan sensor tinggi muka air di sungai-sungai Cimahi, terutama yang berada di daerah padat penduduk. Dengan begitu, potensi banjir dan banjir bandang bisa diantisipasi lebih cepat,” ujar Fithriandy saat dikonfirmasi, Senin (3/10/2025).
Menurut Andy, sapaan akrabnya, hingga Desember 2025, Kota Cimahi berada dalam status siaga geohidrometeorologi—satu tingkat di atas kondisi normal.
Status ini diberlakukan menyusul meningkatnya potensi cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, serta aktivitas seismik di wilayah Jawa Barat, termasuk potensi gempa dari Sesar Lembang.
“Sekarang situasi di Cimahi satu tingkat lebih tinggi dari biasanya. Kita bersiaga menghadapi potensi bencana geologi dan hidrometeorologi. Belakangan ini banyak gempa sporadis terjadi di wilayah Jawa Barat, dan kita tidak bisa lengah,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari respons cepat, BPBD Cimahi telah mengaktifkan pos komando siaga (poscode), memperkuat koordinasi dengan relawan kebencanaan, serta memastikan seluruh perangkat tanggap darurat dalam kondisi siap pakai.
Tak hanya dari sisi teknis, BPBD juga aktif meningkatkan sosialisasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Baca Juga:Jelang Indonesia vs Irak, Calvin Verdonk Diharapkan Pulih Tepat WaktuDemi Tiket Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Wajib Kalahkan Irak
Andy menekankan bahwa pemahaman warga tentang mitigasi bencana sangat krusial dalam menekan angka korban jiwa.
“Kami percaya, semakin banyak masyarakat yang tahu bagaimana bertindak saat bencana, semakin kecil risiko korban luka atau meninggal. Karena itu kami gencar melakukan sosialisasi, baik lewat media cetak, televisi, hingga media sosial,” ujarnya.
