Andy juga menyebutkan bahwa upaya mitigasi struktural, seperti penguatan bangunan serta penyesuaian tata ruang berbasis risiko bencana, terus dikawal melalui kolaborasi lintas sektor—pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha (multi-helix).
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan BPBD Cimahi adalah integrasi sistem peringatan dini (EWS) dengan perangkat digital masyarakat, seperti telepon seluler dan televisi.
“Langkah ke arah sana sudah ada. Kami ingin sistem ini bisa langsung terhubung ke handphone dan televisi masyarakat. Dengan begitu, ketika sensor mendeteksi ancaman, masyarakat bisa segera melakukan evakuasi dalam golden time keselamatan,” tuturnya.
Baca Juga:Masa Depan Patrick Kluivert di Kursi Pelatih Timnas Indonesia Abu-Abu!Persib Genjot Fisik Pemain di Jeda Internasional
EWS juga akan dilengkapi dengan sirene darurat yang dipasang di titik-titik utama, agar masyarakat sekitar dapat segera waspada ketika peringatan bahaya disuarakan.
“Nanti di tiang EWS akan ada sirene yang menyuarakan peringatan bahaya. Kami juga akan sosialisasikan cara mengenali bunyinya agar masyarakat sekitar memahami arti setiap tanda peringatan,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Andy menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.
Dengan kolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, Cimahi diharapkan mampu menjadi kota tangguh bencana.
“Kami dan masyarakat serta semua elemen yang terlibat memastikan kesiapan di bidang sosialisasi, pencegahan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi pascabencana. Dengan status siaga satu tingkat lebih tinggi ini, Cimahi harus benar-benar siap,” tandasnya. (Mong)
