KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung

KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung
ORGANIK : Awam saat merawat bayam di sepetak kebun di Perumahan Mitra Dago Parahyangan Kota Bandung, Kamis (2/10). Sayuran itu dipupuk dari hasil Rumah Kompos. (Foto: Hendrik Muchlison/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Hadirnya PT Astra ke perumahan itu tentu menjadi angin segar untuk pengembangan program peduli lingkungan. Angin segar tak hanya berupa dukungan dana, tapi juga bekal ilmu yang cukup berarti.

Pelatihan atau pembinaan yang diberikan cukup berarti. Itu membantu dalam keberlanjutan program. “Tentu kami sangat terbantu dengan hadirnya Astra,” katanya.

Fenti menambahkan, saat ini pihaknya juga terus mengembangkan budaya peduli lingkungan di perumahannya. Tidak hanya soal mengolah sampah, tapi juga upaya mencegah produksi sampah.

Baca Juga:Soal Pengolahan Sampah, Pemkot dan Pasar Induk Caringin Masih BuntuPengelola Pastikan Sampah Pasar Induk Caringin Masih Terkendali, Pengunjung: Sampahnya Tetap Menumpuk! 

Misalnya dari pengembangan budaya Zero Waste Lifestyle. Contohnya dimulai dari pembatasan penggunaan botol minuman plastik. “Kalau arisan sudah diwajibkan bawa tumbler,” katanya.

Berikutnya adalah produksi zero waste kit. Itu seperti tisu yang dari kain yang bisa dicuci ulang sehingga menekan penggunaan tisu sekali pakai. Termasuk tas belanja.

Dan yang menarik adalah budaya belanja tanpa kemasan. Yakni belanja produk kebutuhan sehari-hari dari bumbu dapur hingga sabun secara grosir untuk menekan kemasan. Warga sudah menyediakan kemasan khusus yang biasanya dikumpulkan di pos sekuriti. “Kami bisa mencegah sekitar 280,8 kg sampah plastik dengan program ini,” tutup Fenti.

Perlu Rekayasa Sosial untuk Tuntaskan Masalah Sampah Bandung

Pakar Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Yogi Suprayogi mengakui bahwa sampah memang menjadi salah satu masalah klasik Kota Bandung. Masalah itu bisa dituntaskan salah satunya dengan rekayasa sosial.

Yogi menguraikan, darurat sampah beberapa kali diberlakukan di Kota Bandung. Ini menunjukkan bahwa masalah sampah masih jadi masalah serius.

Menurutnya, masalah sampah ini tidak cukup dituntaskan dengan inovasi teknologi saja. Tapi yang cukup penting adalah membangun keterlibatan warga.

“Bukan mustahil untuk dituntaskan. Salah satunya dengan rekayasa sosial. Bagimana warga bisa mau ikut terlibat menuntaskan masalah sampah,” katanya kepada Jabar Ekspres, Jumat (26/9).

Baca Juga:Sampah Pasar Caringin Capai 40 Ton per Hari, Pengelola Siapkan BioteknologiOperasi Mesin Sampah Kecil di Bandung Disetop Sementara, Ini Alasannya

Makanya peran serta masyarakat dalam mengolah sampah di Kota Bandung patut digeliatkan. Tidak hanya di perkampungan tapi juga perumahan di Kota Bandung.

Yogi mencontohkan, di Jepang memang ada banyak inovasi teknologi terkait sampah. Tapi yang menarik adalah kepedulian warga terhadap sampah. Misalnya dari hal yang sederhana terkait memilah sampah. Budaya itu juga telah cukup baik terbangun di masyarakatnya. “Saya itu sampai ditegur warga karena salah buang sampah saat di Jepang,” katanya. (son)

0 Komentar