KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung

KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung
ORGANIK : Awam saat merawat bayam di sepetak kebun di Perumahan Mitra Dago Parahyangan Kota Bandung, Kamis (2/10). Sayuran itu dipupuk dari hasil Rumah Kompos. (Foto: Hendrik Muchlison/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Fenti menambahkan, Mitra Dago resmi menyandang status KBS pada 2023 akhir. Itu juga setelah para warga meresmikan kegiatan pengelolaan sampah secara komunal pada Maret 2023.

Sampai 3 Kali Ditolak RW, Warga Nyinyir

Fenti Atmawinata bersama kelompoknya termasuk penggagas gerakan pengelolaan sampah di perumahan itu. Menurutnya, buah manis yang kini hadir di Mitra Dago telah melalui proses panjang. Berbagai tantangan juga telah dihadapi.

Pensiunan karyawan BUMN itu menceritakan, kegiatan pengelolaan sampah itu bermula dari kegiatan personal warga. Warga termasuk dirinya yang mulai peduli lingkungan berupaya mengolah sampah rumah tangganya secara mandiri. Langkah awalnya adalah memilah sampah organik dan anorganik. Lalu membuat biopori di halaman rumah.

Baca Juga:Soal Pengolahan Sampah, Pemkot dan Pasar Induk Caringin Masih BuntuPengelola Pastikan Sampah Pasar Induk Caringin Masih Terkendali, Pengunjung: Sampahnya Tetap Menumpuk! 

“Kalau saya pribadi, kepedulian terbentuk karena memang circle dengan orang-orang yang peduli lingkungan. Sering ikut relawan peduli lingkungan. 2008 saya dikenalkan dengan biopori dari teman ITB,” katanya.

Perlahan kegiatan yang dilakukan segelintir warga itu menggema di perumahan. Pada 2018, Fenti dan beberapa ibu-ibu perumahan membuat Whatsapp Grup Zero Waste Lovers. Di situ jadi tempat sharing dan membudayakan aksi peduli lingkungan. Terutama masalah sampah perumahan.

Kemudian pihaknya ingin kegiatan pengelolaan sampah itu makin masif di Perumahan Mitra Dago. Salah satu jalan yang ditempuh adalah mengusulkan ke pengurus RW. Harapanya kegiatan tersebut jadi program perumahan.

“Kala itu pengurus RW masih orang lama. Ide kami kurang mendapat dukungan. Bahkan sampai 3 kali mengusulkan. Hasilnya nihil,” katanya.

Lalu di 2023 ada pergantian Pengurus RW. Itu jadi kesempatan emas Fenti dan kelompoknya untuk kembali mengusulkan gagasan program pengelolaan sampah. Hasilnya mendapat respons positif.

Pengurus RW memberi dukungan penuh terhadap program. Sampai membuat surat edaran kepada warga perumahan. Dukungan pengurus RW dan surat edaran itu jadi amunisi luar biasa dalam membangun kesadaran warga. “Jadi bisa diresmikan kegiatan pengelolaan sampah secara komunal itu Maret 2023,” bebernya.

Pada tahap awal, belum semua warga sepakat. Bahkan tidak sedikit warga yang nyinyir. “Awal-awal adalah warga yang nyinyir, ah program tidak akan berhasil,” cetusnya.

Baca Juga:Sampah Pasar Caringin Capai 40 Ton per Hari, Pengelola Siapkan BioteknologiOperasi Mesin Sampah Kecil di Bandung Disetop Sementara, Ini Alasannya

Namun hal itu tidak membuat Fenti dan kelompoknya menyerah. Sosialisasi terus dilakukan. Agar warga makin banyak yang terlibat dalam program pengelolaan sampah perumahan.

0 Komentar