KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung

KBA Mitra Dago, Perumahan Mandiri di Tengah Darurat Sampah Kota Bandung
ORGANIK : Awam saat merawat bayam di sepetak kebun di Perumahan Mitra Dago Parahyangan Kota Bandung, Kamis (2/10). Sayuran itu dipupuk dari hasil Rumah Kompos. (Foto: Hendrik Muchlison/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Pihaknya juga tidak segan untuk sosialisasi dari pintu ke pintu warga perumahan. Itu untuk membangun kepedulian warga dalam pengelolaan sampah. Lalu momen kumpul warga seperti arisan selalu jadi kesempatan emas untuk edukasi pengolahan sampah. Satu persatu hati wargapun terketuk dan mau bergerak.

Menurut Fenti, di beberapa bulan menjelang akhir 2023 ada momen yang cukup mendukung. Yakni kondisi darurat sampah di Kota Bandung. Kondisi itu banyak membuat warga perumahan sadar dan akhirnya ikut bergerak dalam program pengelolaan sampah. Hingga akhirnya Perumahan Mitra Dago Parahyangan menyandang status KBS.

Biopori hingga Rumah Kompos Buat Aman Saat Darurat Sampah

Ada beberapa inovasi yang dilakukan warga Perumahan Mitra Dago dalam mengolah sampahnya. Langkah itu dimulai dari rumah masing-masing.

Baca Juga:Soal Pengolahan Sampah, Pemkot dan Pasar Induk Caringin Masih BuntuPengelola Pastikan Sampah Pasar Induk Caringin Masih Terkendali, Pengunjung: Sampahnya Tetap Menumpuk! 

Pertama sampah rumah tangga dipilah antara sampah organik, anorganik dan B3 atau residu. Sampah organik bisa dimasukkan biopori bagi yang punya. Jika tidak, akan diangkut di pengelolaan sampah komunal RW.

Warga sepakat membuat jadwal pengangkutan sampah sesuai jenisnya. Yaitu, Senin pukul 07.00 – 08.30 WIB pengambilan sampah organik. Pukul 09.30-11.30 WIB sampah anorganik.

Rabu pukul 07.00-09.30 WIB sampah residu dan organik. Kamis pukul 07.00-09.30 WIB sampah anorganik. Sabtu pukul 07.00-08.30 WIB sampah organik. Dan setiap tanggal 15 adalah jadwal pengambilan sampah jelantah.

Fenti menjabarkan, volume sampah organik bisa tembus 3.398 kilogram per bulan. Sementara sampah anorganik di angka 558 kilogram.

Warga telah sepakat untuk membangun tempat pengolahan sampah komunal di salah satu sudut lahan komplek. Ada sepetak tanah di samping lapangan. Tempat itu kemudian dibangun rumah kompos dan bata terawang.

Di rumah kompos dan bata terawang itulah, sampah organik diolah menjadi pupuk. Selain itu juga ada sarana biopori yang memang khusus untuk sampah sisa makanan.

Sementara untuk sampah anorganik, pihak perumahan bekerja sama dengan salah satu Bank Sampah yang tak jauh dari komplek. “Jadi tinggal sampah residu yang diambil petugas kebersihan kota,” katanya.

Baca Juga:Sampah Pasar Caringin Capai 40 Ton per Hari, Pengelola Siapkan BioteknologiOperasi Mesin Sampah Kecil di Bandung Disetop Sementara, Ini Alasannya

Menurut Fenti, kondisi perumahan saat ini telah jauh berbeda dengan sebelum ada program pengelolaan sampah. Dulu sampah hanya diangkut petugas tanpa dipilah. Kini nyaris 100 persen sampah perumahan telah dikelola.

0 Komentar