JABAR EKSPRES – Tingkat pengeluaran masyarakat Kota Cimahi untuk berbagai barang dan jasa pada tahun 2024 mengalami penurunan sebesar 0,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran warga Cimahi tercatat sebesar Rp2.166.367 per kapita per bulan. Meski turun, Cimahi tetap menempati peringkat kelima tertinggi di Jawa Barat dan ke-23 secara nasional dalam kategori ini.
Secara keseluruhan, total pengeluaran masyarakat Cimahi mencapai Rp2.166.367 per kapita per bulan, dengan rincian pengeluaran untuk makanan sebesar Rp925.373 dan non-makanan sebesar Rp1.240.994.
Baca Juga:Pastikan Keamanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Pengawasan MBG DiperketatBikin Panik Tamu Hotel di Bandung, Macan Tutul Berhasil di Evakuasi Tim Gabungan
Berdasarkan data BPS, tren pengeluaran masyarakat Cimahi menunjukkan pergeseran mencolok dalam tiga tahun terakhir. Untuk kategori non makanan, terlihat penurunan pada hampir seluruh lapisan masyarakat pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jadi untuk non makanan justru turun tiap tahun secara total, dan untuk kelas menengah serta atas juga mengalami penurunan pada 2024 dibandingkan 2023,” terang Statistisi Ahli Madya BPS Cimahi, Dewi Mulyahati saat ditemui Jabar Ekspres di Kantor BPS Cimahi, Jalan Encep Kartawiria, Citeureup, Cimahi Utara, Selasa (7/10/25).
Berdasarkan data BPS, menunjukkan pengeluaran non makanan masyarakat 40 persen menengah turun dari Rp1.016.133 pada 2023 menjadi Rp955.920 pada 2024, sedangkan kelompok 20 persen atas turun dari Rp3.454.627 menjadi Rp3.450.091 pada periode yang sama.
Penurunan ini menjadi indikasi bahwa pola konsumsi masyarakat Cimahi mulai bergeser, terutama di kalangan menengah dan atas yang sebelumnya menjadi pendorong belanja sektor barang dan jasa.
BPS juga mencatat, tren pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Cimahi menurun dalam dua tahun terakhir.
Pada 2023 turun sebesar 32,03 persen, kemudian pada 2024 kembali menurun sebesar 1,23 persen. Penurunan pada tahun 2024 tidak setinggi penurunan pada tahun 2023.
Dewi menjelaskan, penurunan ini terutama terjadi di kelompok rumah tangga 40 persen menengah dan 20 persen ke atas. Masing masing sebesar 6 persen dan 0,13 persen.
Baca Juga:Korban Keracunan Terus Bertambah, Satgas Pengawasan Baru DibentukBola Api dan Dentuman Keras di Langit Cirebon, BRIN: Meteor Besar
“Ternyata terjadi penurunan terhadap pengeluaran barang dan jasa atau pengeluaran konsumsi non makanan. Itu terjadi pada level masyarakat 40 persen menengah dan 20 persen atas,” ujarnya.
Sementara pada kelompok 40 persen bawah, Dewi menyebutkan justru terjadi peningkatan konsumsi non makanan, pada tahun 2023 sebesar Rp401.772 meningkat menjadi Rp418.195 atau meningkat sebesar 4,09 persen
