BPS Ungkap Penurunan Konsumsi Non Makanan di Cimahi

Statistisi Ahli Madya BPS Cimahi, Dewi Mulyahati saat ditemui Jabar Ekspres di Kantor BPS Cimahi (Mong)
Statistisi Ahli Madya BPS Cimahi, Dewi Mulyahati saat ditemui Jabar Ekspres di Kantor BPS Cimahi (Mong)
0 Komentar

“Kalau dikatakan terpengaruh inflasi, masyarakat 40 persen bawah masih mampu menambah konsumsi non makanannya,” jelasnya.

Menurut Dewi, melihat perkembangan dua tahun terakhir, menandakan bahwa masyarakat 40 persen menengah dan 20 persen atas lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan makanan, bukan barang dan jasa.

“Bisa saja terjadi karena harga-harga non makanan naik atau terjadi perubahan pola konsumsi, jadi masyarakat 40 persen menengah dan 20 persen atas bawah lebih mementingkan membeli bahan makanan daripada non makanan,” katanya.

Baca Juga:Pastikan Keamanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Pengawasan MBG DiperketatBikin Panik Tamu Hotel di Bandung, Macan Tutul Berhasil di Evakuasi Tim Gabungan

Dewi menilai fenomena ini bisa disebabkan oleh pergeseran gaya hidup dan peningkatan kesadaran gizi keluarga.

“Bisa juga karena adanya pengetahuan baru tentang pentingnya protein atau gizi anak serta makanan sehat, yang relative sedikit lebih mahal, sehingga pengeluaran untuk penduduk 40 persen menengah dan 20 persen atas difokuskan pada bahan makanan bergizi dan sehat,” tuturnya.

Meski harga bahan pangan sempat meningkat, Dewi menegaskan bahwa inflasi di Cimahi masih terkendali, sejalan dengan inflasi di Kota Bandung sebagai kota acuan.

“Kalau dibilang kenaikan harga signifikan juga tidak, inflasi Cimahi ikut inflasi Kota Bandung, dan sebenarnya masih terkendali,” ungkapnya.

Namun, penurunan konsumsi barang dan jasa di kelompok masyarakat 40 persen menengah dan 20 persen atas tetap menjadi sinyal penting bagi perekonomian daerah, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).

Dewi menuturkan, pelemahan konsumsi barang dan jasa di segmen masyarakat menengah dan atas dapat memengaruhi kinerja UMKM yang berorientasi pada pasar kelas menengah ke bawah.

“selama ini pangsa pasar UMKM itu masyarakat 40 persen bawah untuk produk non makanan menaik, namun kalau untuk pengeluaran makanan menurun,” jelasnya.

Baca Juga:Korban Keracunan Terus Bertambah, Satgas Pengawasan Baru DibentukBola Api dan Dentuman Keras di Langit Cirebon, BRIN: Meteor Besar

Ia menambahkan, Pemkot Cimahi telah melakukan langkah positif dengan mendorong pertumbuhan dan pembinaan UMKM.

‘UMKM di Cimahi sudah dibina, tidak dibiarkan. Sekarang tinggal bagaimana mereka mencari pangsa pasar yang sesuai,” ujarnya.

Menurut Dewi, pelaku UMKM harus mulai memahami tren kebutuhan masyarakat berdasarkan kelompok ekonomi.

“Sekarang tren-nya apa, masyarakat menengah kebutuhannya apa, yang bawah dan atas juga seperti apa, kalau semua bisa dipenuhi, insyaallah UMKM bisa meningkat,” katanya optimistis.

0 Komentar