Respons Kasus Keracunan, SPPG Cimahi Tingkatkan Standar Keamanan dan Kebersihan Dapur MBG

SPPG Cimahi Tingkatkan Standar Keamanan dan Kebersihan Dapur MBG. Foto Firman Satria
SPPG Cimahi Tingkatkan Standar Keamanan dan Kebersihan Dapur MBG. Foto Firman Satria
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gelombang kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah menimbulkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Program yang awalnya diharapkan menjadi solusi peningkatan gizi anak sekolah kini justru menjadi sorotan, khususnya terkait keamanan rantai distribusi makanan—mulai dari dapur pengolahan hingga sampai ke piring para siswa.

Di Cimahi, perhatian publik tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Citeureup 2, yang kini berada di bawah pengawasan ketat. Prosedur keamanan pangan menjadi fokus utama, seiring dengan tuntutan agar pemerintah memperketat pengawasan demi mencegah terulangnya insiden serupa.

Baca Juga:Pakar Unigal Desak Dapur MBG Kantongi SLHS Pasca Siswa SMPN 4 Pamarican Keracunan CCTV hingga Medical Check-Up, SPPG Cimahi Perkuat Standar Kebersihan Dapur MBG

Kepala SPPG Citeureup 2, Ilham Ramadhan, menegaskan standar yang diterapkan di dapurnya tidak main-main.

“Dari awal pemesanan, bahan baku kami ambil melalui koperasi yayasan. Setiap bahan yang datang selalu melewati quality control oleh ahli gizi. Jika tidak lolos, otomatis tidak diolah. Kami tidak bisa main-main, karena risikonya sangat besar untuk anak-anak,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, Kamis (3/10/2025).

Ilham memaparkan, persiapan dimulai sejak pukul 17.00 dengan pembersihan buah, sayuran, hingga protein hewani dan nabati. Proses memasak berlangsung mulai pukul 22.00 malam setelah briefing menu, dilanjutkan pengecekan ulang kualitas bahan.

“Tidak semua bahan bisa langsung diolah. Kalau sayur terlihat cepat busuk atau protein berubah tekstur, itu langsung ditahan. Lebih baik kami menunda daripada dipaksakan berisiko keracunan,” katanya.

Tahapan pemorsian makanan berjalan pukul 02.00 hingga 10.00 pagi dengan kapasitas produksi lebih dari 3.034 porsi per hari. Untuk memastikan keamanan, dilakukan uji organoleptik, pengambilan sampel, hingga pengecekan laboratorium internal.

“Setiap porsi yang keluar wajib mendapat verifikasi kelayakan konsumsi oleh sarjana gizi,” tegas Ilham.

SPPG Citeureup mempekerjakan 51 orang, terdiri dari 48 pegawai dapur, satu ahli gizi, satu staf akuntansi, dan satu kepala unit. Namun pengawasan, kata Ilham, tetap menjadi tantangan. Terlebih pasca kasus keracunan yang viral di media sosial.

Baca Juga:SPPG Tak Miliki SLHS Masih Marak, Dinkes Cimahi Intensifkan Inspeksi dan Penyulukan ke Dapur MBG

“Beda ya antara makanan beracun dengan makanan basi. Kalau beracun berarti ada zat berbahaya, sedangkan basi bisa karena kesalahan penyimpanan. Antisipasi kami harus lebih ketat agar tidak ada kontaminasi silang,” jelasnya.

0 Komentar