JABAR EKSPRES – Film fenomenal Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI atau yang lebih dikenal dengan Pengkhianatan G 30 S PKI, setiap tahunnnya masih terus ditayangkan pada tanggal 30 September.
Film yang diproduksi pada tahun 1984 ini sempat disebut sebagai propaganda orde baru yang saat itu berkuasa di Indonesia.
Arifin C. Noer didapuk sebagai sutradara sekaligus penulis naskahnya, sedangkan pendanaan diproduseri langsung oleh G. Dwipayana, dengan beberapa aktor yang mirip dengan tokoh aslinya, seperti Amoroso Katamsi sebagai Suharto, Umar Kayam, dan Syubah Asa dan yang lainnya.
Baca Juga:BAHAYA, 15 Aplikasi Penghasil Uang Baru ini Terindikasi PenipuanTernyata ini Penyebab Keracunan MBG yang Dialami 1.333 Siswa di Bandung Barat
Film yang diproduksi selama dua tahun ini menelan biaya hingga Rp800 juta Rupiah kala itu dan berhasil menjadi film fenomenal karena selalu diputar setiap tahunnya hingga sekarang.
Dilansir dari Wikipedia, dalam arsip resmi pemerintah yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, Kisah dalam film ini didasarkan pada peristiwa “Gerakan 30 September” atau “G30S” (peristiwa percobaan kudeta pada tahun 1965) yang menggambarkan peristiwa kudeta ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Film ini menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa tersebut. Dalam kala kekacauan ekonomi, enam jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI dan TNI Angkatan Udara, konon untuk memulai kudeta terhadap Presiden Soekarno.
Jenderal Soeharto muncul sebagai tokoh yang menghancurkan gerakan kudeta tersebut, setelah itu mendesak rakyat Indonesia untuk memperingati mereka yang tewas dan melawan segala bentuk komunisme.
Film ini juga menampilkan pergantian rezim pemerintahan Indonesia dari Presiden Soekarno ke Soeharto menurut versi pemerintahan Orde Baru. Film ini menggambarkan gerakan G30S sebagai gerakan kejam yang telah merencanakan “setiap langkah dengan terperinci”.
Film ini menggambarkan sukacita dalam penggunaan kekerasan yang berlebihan dan penyiksaan terhadap para jenderal, penggambaran yang telah dianggap menggambarkan bahwa “musuh negara adalah bukanlah manusia”.
Luar biasnaya, Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia 1984, memenangkan satu, dan mencapai angka rekor penonton – meskipun dalam banyak kasus penonton diminta untuk melihat film ini, alih-alih secara sukarela.
