“Iya (memakan waktu). Guru belajar dulu dari berbagai media sebelum menjelaskan atau mengajarkan ke peserta didik,” katanya.
Yanti menegaskan, sebagai orang Sunda asli, dirinya mendukung penuh program ini.
“Saya sebagai orang Sunda asli sangat antusias dengan program ini, karena kita harus ngamumule (menghidupkan kembali) budaya Sunda terutama aksara Sunda. Kalau mau belajar pasti akan efektif,” ujarnya.
Baca Juga:Terapkan Tiga Kurikulum, SRMP 8 Cimahi Cetak Siswa Disiplin dari Keluarga Miskin EkstremCiptakan Kurikulum Berbasis Sustainability, Inovasi Muda Resmi Gandeng UPI untuk Masa Depan Hijau
Di sisi lain, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Heni Tishaeni, memastikan pihaknya menyambut baik wacana tersebut.
Menurutnya, pelestarian budaya Sunda, termasuk Aksara Sunda, memang selayaknya menjadi bagian dari proses pendidikan.
“Nanti ke kita juga sudah ada yang datang, nanti kita pertemukan dengan MGMP Bahasa Sunda, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Sunda,” ujar Heni.
Ia menambahkan, materi Bahasa Sunda sebenarnya sudah terintegrasi dalam pembelajaran, termasuk pengenalan aksaranya. Namun, untuk mempertegas implementasi, diperlukan musyawarah bersama.
“Mungkin kita pertemukan dulu, kemudian dimusyawarahkan apakah masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler, atau dimasukkan langsung ke kurikulum. Kalau kurikulum atau sebagai pembelajaran, nanti kita ketemu dulu, diskusi dulu,” jelasnya.
Heni juga menegaskan, guru tidak akan keberatan jika program ini dijalankan, meski tetap membutuhkan penyesuaian dan pelatihan ulang.
“Enggak sih, kalau guru-guru insya Allah enggak akan keberatan. Ya namanya guru kan memang harus terus meng-update diri dengan materi-materi pembelajaran. Jadi, paling hanya perlu penyesuaian dan pelatihan kembali,” tandasnya. (Mong)
