Aksara Sunda Jadi Wacana Kurikulum, Sekolah di Cimahi Pilih Ekstrakurikuler

Aksara Sunda Jadi Wacana Kurikulum, Sekolah di Cimahi Pilih Ekstrakurikuler
Ilustrasi: Siswa SD mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Rencana memasukkan Aksara Sunda ke dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler di tingkat SD dan SMP tengah dibahas serius oleh Dinas Pendidikan Kota Cimahi.

Isu ini mengemuka seiring upaya pemerintah daerah menghidupkan kembali warisan budaya lokal yang kian tergerus oleh zaman.Sejumlah sekolah menyambut baik gagasan tersebut, meski menilai perlu pengkajian lebih lanjut.

Pasalnya, tidak semua guru memahami Aksara Sunda Buhun yang diwacanakan Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, untuk diterapkan dalam pembelajaran.

Baca Juga:Terapkan Tiga Kurikulum, SRMP 8 Cimahi Cetak Siswa Disiplin dari Keluarga Miskin EkstremCiptakan Kurikulum Berbasis Sustainability, Inovasi Muda Resmi Gandeng UPI untuk Masa Depan Hijau

Meskipun tujuannya mulia, yakni melestarikan dan menghidupkan kembali budaya Sunda, beberapa sekolah menilai lebih realistis jika Aksara Sunda ditempatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, bukan kurikulum inti.

Seperti diungkapkan Kepala SDN Cibeureum Mandiri 1 Cimahi, Dewi Cahyanti. Ia mengatakan, pihak sekolah belum menerima sosialisasi resmi dari Dinas Pendidikan terkait wacana pembelajaran Aksara Sunda.

“Belum pernah ada sosialisasi. Belum tahu juga karena pelatihannya harus difasilitasi Dinas Pendidikan supaya acuannya sama. Kalau menurut saya, lebih baik masuk ekskul saja, cukup oleh satu guru,” ujar Dewi kepada Jabar Ekspres, Kamis (25/9/2025).

Menurutnya, jika dimasukkan ke dalam kurikulum, beban guru kelas akan semakin berat. Sebab, di SD guru kelas bertanggung jawab mengajar hampir semua mata pelajaran kecuali PJOK dan PAI.

“Kalau sebagai ekskul lebih realistis. Di sekolah saya, sudah direncanakan mulai semester dua akan ada ekskul minat bakat. Salah satunya Aksara Sunda, tujuannya juga untuk mempersiapkan siswa menghadapi Festival Tunas Bahasa Ibu sekaligus melestarikan budaya Sunda, khususnya aksara Sunda,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SDN Cibabat Mandiri 1, Yanti, menyatakan pihaknya juga lebih memilih memasukkan Aksara Sunda ke dalam kegiatan ekstrakurikuler.

“Tapi peminat kurang. Biasanya pas mau kegiatan FTBI baru pada semangat karena ingin terpilih menjadi peserta FTBI,” ungkapnya.

Baca Juga:Ngatiyana Ingatkan Bahaya Hilangnya Budaya, Pemkot Gelorakan Aksara Sunda di Nama Jalan dan SekolahBelajar Aksara Sunda, Anak-Anak Cimahi Tantang Diri di Tengah Gempuran Gadget

Yanti menambahkan, sekolahnya berencana melibatkan ahli kesundaan untuk mengajar dalam ekstrakurikuler tersebut.

“Kadang ada kendalanya, kalau tidak punya ahli, paling guru belajar dulu di Google,” ucapnya.

Meski butuh waktu untuk menyiapkan guru yang benar-benar memahami Aksara Sunda, Yanti tetap menyambut positif rencana ini.

0 Komentar