Minim Perhatian Pemerintah, Monumen Oto Iskandardinata Dipugar Keluarga

Minim Perhatian Pemerintah, Monumen Oto Iskandardinata Dipugar Keluarga
Suasana pemugaran Monumen Pahlawan Nasional Oto Iskandar di Nata, tampak perbaikan gapura dan pengecatan bagian dalam kompleks monumen secara swadaya. Selasa (16/9). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kondisi Monumen Pahlawan Nasional (MPN) Oto Iskandardinata di Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kian memprihatinkan.

Minim perawatan dan dukungan anggaran dari pemerintah daerah membuat keluarga besar tokoh pergerakan itu terpaksa melakukan pemugaran secara swadaya.

Berdasarkan pantauan Selasa (16/9/2025), terlihat aktivitas perbaikan gapura atau pintu masuk monumen serta pengecatan di bagian dalam. Upaya ini dilakukan keluarga sebagai langkah awal agar monumen tetap terawat meski dengan dana terbatas.

Baca Juga:Menkop Minta Suntikan Dana ke Himbara Rp3 Miliar per Kopdes Merah Putih?SPBU Swasta Krisis Pasokan, BBM Impor AS Masih Abu-Abu?

Menantu Oto Iskandardinata, Chandra Dewi Rachmadi, mengatakan rencana awal keluarga adalah melakukan pembenahan menyeluruh terhadap kompleks makam simbolik. Namun karena tidak adanya biaya operasional dari pemerintah, perbaikan difokuskan pada gapura depan.

“Pemugaran ini kami lakukan swadaya. Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat bisa memberikan perhatian dan dukungan dana agar perbaikan bisa menyeluruh,” kata Chandra kepada wartawan.

Menurutnya, perhatian pemerintah sangat penting sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa Oto Iskandardinata yang dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat.

“Tokoh asal Bandung ini berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk penyempurnaan naskah Proklamasi dan terpilihnya Presiden Soekarno secara aklamasi,” tambahnya.

Diketahui, monumen Oto Iskandardinata kini telah berstatus cagar budaya dan tercatat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Meski demikian, perhatian pemerintah dalam bentuk dana pemeliharaan dinilai masih minim.

“Kami hanya ingin monumen ini bisa terjaga dengan baik. Monumen ini bukan hanya milik keluarga, melainkan milik bangsa,” tandasnya.

Kondisi serupa juga diungkapkan oleh Mimin (60), penerus kuncen monumen. Ia menuturkan tidak ada biaya rutin untuk perawatan. Sehari-hari, dirinya mengandalkan hasil warung kecil di samping gapura monumen untuk biaya kebersihan dan kebutuhan operasional.

Baca Juga:Pelari dari Berbagai Penjuru Bersatu dalam BDG100 Ultra, EIGER Hadirkan Uji Coba Trail-RunningPemanfaatan Sampah Plastik untuk Pembangunan Bisa Bantu Selamatkan Hutan?

“Saya meneruskan tugas almarhum suami. Untuk pemeliharaan rutin saya gunakan penghasilan warung. Kalau ada acara besar, baru saya bersihkan lebih menyeluruh,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat yang enggan disebut namanya menjelaskan, pengelolaan monumen pahlawan nasional sepenuhnya berada di bawah Kementerian Sosial sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2014.

0 Komentar