Harga Ayam Melonjak Dua Pekan, Pedagang Bandung Merugi

Pedagang memotong daging ayam di salah satu kios di Pasar Ciroyom, Kota Bandung, Selasa (16/9)
Pedagang memotong daging ayam di salah satu kios di Pasar Ciroyom, Kota Bandung, Selasa (16/9). Menurut pedagang, harga daging ayam potong mengalami kenaikan menjadi Rp42.000 dari harga normal sekitar Rp35.000, kenaikan harga tersebut sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Harga ayam potong di pasar tradisional Kota Bandung terus merangkak naik dalam dua pekan terakhir. Lonjakan harga ini membuat para pedagang kewalahan dan omzet usaha mereka merosot tajam.

Di Pasar Ciroyom, Akang (49), pedagang ayam asal Garut, menyebut harga ayam kini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Padahal, harga normal sebelumnya hanya Rp30 ribu hingga Rp35 ribu.

“Sudah dua minggu naik. Pasokan juga selama dua minggu ini sering telat masuk,” kata Akang kepada Jabar Ekspres di tokonya, Senin (16/9).

Baca Juga:Persib Siap Tempur Hadapi Lion City Sailors di ACL Two, Matricardi: Kami Percaya Diri!Tak Mau Ubah Gaya, Amorim Tantang Takdir di Old Trafford

Akang, yang telah berjualan ayam sejak 2015, mengaku kenaikan harga ini langsung berimbas pada jumlah pembeli. Permintaan daging ayam menurun drastis dalam dua pekan terakhir.

Dirinya lantas berharap harga kembali stabil agar daya beli konsumen pulih. “Omzet menurun 60 persen ke atas. Sudah kerasa sejak dua minggu lalu,” ujarnya.

Kondisi lebih memprihatinkan dialami Sugiono (55), pedagang ayam di Bandung lainnya. Dia menyebut bahkan harga ayam kini paling tinggi mencapai Rp52 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya Rp27 ribu.

“Sudah dua minggu segini. Pembelian berkurang drastis, omzet turun 50 persen,” keluh Sugiono saat ditemui Jabar Ekspres.

Serupa dengan Akang, dirinya pun hingga saat ini tidak tahu menahu alasan kenaikan tersebut. Menurutnya kenaikan hanya diinformasikan dari distributor, tanpa memberi tahu penyebabnya.

Menurut Sugiono, harga tinggi membuat pedagang semakin sulit berjualan. “Sekarang malah nombok. Kalau pedagang mah harga ingin stabil lagi. Kerasa pokoknya sebagainya rakyat kecil,” ujarnya.

0 Komentar