Peringati Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia, Bupati Herdiat Sebut Warga Ciamis Cinta Damai

Peringati Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia, Bupati Herdiat Sebut Warga Ciamis Cinta Damai
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyampaikan sambutan dalam peringatan Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia yang digelar di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, pada Selasa (9/9/2025). (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Sementara itu, pemrakarsa Gong Perdamaian Dunia, HM Anton Charlian, menegaskan kembali makna filosofis dari Gong Perdamaian Dunia sebagai simbol ajaran universal tentang kasih sayang dan kedamaian.

“Rasa damai adalah nilai utama seluruh agama dan kemanusiaan. Dalam ajaran Sunda sendiri, leluhur kita sejak tahun 739 sudah menekankan larangan perang saudara, permusuhan, balas dendam, hingga serangan. Sebaliknya, yang dijunjung adalah musyawarah, tolong-menolong, dan saling menghargai,” tutur Anton.

Anton juga menjelaskan bahwa Gong Perdamaian Dunia tidak lahir begitu saja, melainkan memiliki akar sejarah yang kuat di tanah Galuh.

Baca Juga:Lewat AyoKerjo Jateng, Gubernur Siapkan Beragam Lowongan Kerja Lulusan SMA-D2 Periode September-OktoberPerayaan HUT ke-24 Partai Demokrat di DPC Kota Bandung, Berlangsung Sederhana dan Khidmat

“Kenapa Gong Perdamaian Dunia didirikan di sini? Karena tanah Galuh adalah tanah damai. Setiap gong perdamaian yang dibangun di belahan dunia manapun harus membawa tanah dari Kuta Galuh sebagai simbol sumber perdamaian Nusantara,” ungkapnya.

Ia pun menyinggung filosofi ikat Galuh yang disertai bulu ayam, yang merupakan simbol kesatria Ciung Wanara yang memiliki semangat juang tinggi namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian. Filosofi ini, menurut Anton, mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang tegas dalam prinsip tetapi selalu mengedepankan jalan damai dalam menyelesaikan masalah.

Dengan rangkaian acara budaya dan refleksi sejarah yang digelar, peringatan Milangkala ke-16 Gong Perdamaian Dunia ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni belaka, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa perdamaian harus terus dipelihara dan diperjuangkan.

“Perdamaian harus dimulai dari hati setiap insan, kemudian meluas ke keluarga, masyarakat, dan akhirnya ke seluruh dunia,” tegasnya. (CEP)

0 Komentar