Tapi yang diterapkan di DBL bukan hanya punishment untuk mereka yang melanggar aturan. DBL juga memberikan apresiasi lewat reward bagi suporter sekolah yang dianggap sportif dan kreatif. Penghargaan ini dikemas begitu bermakna sehingga tiap suporter sekolah mengejar reward itu untuk sebuah kebanggaan Program penghargaan untuk suporter ini konsisten digelar sejak 2008. Setiap tahunnya, DBL memberi penghargaan untuk suporter antara lain Best Chant, Best Choreo, Best Coordinator Supporter, Supporter Award (juara 1,2, dan 3) serta Most Discipline Supporter.
Melalui Haornas 2025 ini Menpora juga menyampaikan lima langkah nyata pembangunan olahraga di Indonesia. Dari lima langkah nyata itu, tiga di antaranya penekanannya pada pemerintah daerah (pemda). Sedangkan dua lainnya sifatnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, media, akademisi, komunitas, dan masyarakat luas.
Lima langkah nyata itu yang pertama adalah pemda harus mewujudkan pembudayaan olahraga sejak dini. Hal itu dilakukan dengan memperkuat olahraga pendidikan, memastikan setiap sekolah memiliki fasilitas dasar olahraga, serta memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain, berlari, dan berolahraga secara aman.
Baca Juga:NA Mantan Walkot Cirebon Jadi Tersangka Korupsi Multiyears , Negara Rugi Rp26 MKejari Cirebon Tahan NA dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Multiyears 2016–2018
Yang kedua, pemda wajib memperluas akses masyarakat terhadap ruang olahraga publik. Taman olahraga, lapangan serbaguna, jalur lari, dan fasilitas kebugaran terbuka harus tersedia di setiap kabupaten/kota. Menpora berharap pemda bisa mewujudkan minimal satu ruang olahraga publik di setiap kecamatan, sehingga olahraga benar-benar menjadi milik semua lapisan masyarakat.
Ketiga, Menpora berharap adanya penguatan pembinaan prestasi atlet dengan dukungan sport science. Latihan yang terukur, program yang sistematis, dan pembinaan berbasis ilmu pengetahuan akan melahirkan atlet-atlet berprestasi dunia.
Langkah ketiga itu memang terlihat sebagai tanggung jawab pemerintah. Namun di kompetisi DBL hal itu sudah dilakukan oleh panitia sekaligus secara mandiri dilakukan oleh sekolah.
Di kompetisi DBL selama ini ada dukungan sport science untuk para peserta. Misalnya adanya tes pengukuran fisik untuk memantau perkembangan student athlete, yang mencakup tinggi badan, berat badan, rentang lengan (arm span), dan lompatan vertikal (vertical jump).
Sejumlah sekolah peserta DBL -yang tertantang menjadi yang terbaik- juga melakukannya secara mandiri. Biasanya mereka bekerja sama dengan kampus yang punya pendidikan olahraga atau pihak swasta. Kerja sama dilakukan dengan menyiapkan program-program untuk memantau dan mengembangkan kemampuan fisik anak asuhnya.
