Ketika Utang Menjadi Jerat Mental, Psikolog Buka Suara soal Tragedi Ibu dan Dua Anak di Bandung

Ilustrasi bunuh diri. (Pixabay)
Ilustrasi bunuh diri. (Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus bunuh diri yang melibatkan seorang ibu rumah tangga dan dua anaknya di Kabupaten Bandung mengguncang masyarakat.

Sang ibu, berinisial EN (34), ditemukan tewas akibat gantung diri, sementara dua anaknya, berusia 9 tahun dan 11 bulan, ditemukan meninggal dunia di tempat yang sama.

Dugaan kuat, sang ibu terlebih dahulu meracuni kedua anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.

Baca Juga:Memphis Depay Pecahkan Rekor, Jadi Top Skor Sepanjang Masa Timnas BelandaTunda Gelar Juara, Marc Marquez Pilih Bermain Aman di MotoGP Catalunya

Di lokasi kejadian, aparat menemukan surat wasiat yang mengungkapkan alasan di balik aksi nekat ini.

Dalam surat tersebut, EN menuliskan bahwa dirinya sudah tidak kuat menjalani hidup karena beban utang yang terus menumpuk dan rasa putus asa yang mendalam.

Menanggapi peristiwa tersebut, Psikolog sekaligus Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy Ph.D menegaskan bahwa tindakan bunuh diri biasanya bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari tekanan psikologis yang berkepanjangan.

“Dalam banyak kasus, bunuh diri adalah puncak dari keputusasaan yang tidak tertangani. Utang yang menumpuk bukan hanya soal keuangan, tapi menjadi simbol dari kehilangan kendali hidup. Bila tidak ada dukungan, seseorang bisa merasa bahwa satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri hidup,” ujar Billy Martasandy.

Ia menambahkan bahwa ketika seorang ibu melibatkan anak-anaknya dalam tindakan bunuh diri, sering kali itu bukan karena niat menyakiti, tetapi karena adanya delusi bahwa anak-anak lebih “baik mati bersama” daripada ditinggal menghadapi penderitaan hidup.

“Itu adalah bentuk distorsi kognitif akibat depresi berat. Dalam pikirannya yang gelap, ia merasa sedang menyelamatkan anak-anak, bukan mencelakai,” jelasnya.

Dirinya mengungkapkan, tekanan ekonomi seperti utang bisa berdampak besar pada kesehatan mental, terutama pada perempuan yang menjadi tulang punggung rumah tangga secara emosional maupun finansial.

Baca Juga:Gubernur Ahmad Luthfi Minta Karang Taruna Kawal Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan DesaMenag Janji Renovasi Majelis yang Ambruk di Bogor: Ini Musibah, Tapi Niatnya Mulia

“Beban ganda perempuan, mengurus rumah, anak, dan mungkin juga mencari nafkah, bisa menimbulkan stres kronis. Bila tidak ada ruang aman untuk bicara atau mencari bantuan, depresi mudah berkembang,” katanya.

Pandangan senada juga disampaikan Tim Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Zahraini Rahma Fatimah. Menurutnya, kasus ini menggambarkan beban psikologis yang sangat kompleks.

0 Komentar