Ketika Utang Menjadi Jerat Mental, Psikolog Buka Suara soal Tragedi Ibu dan Dua Anak di Bandung

Ilustrasi bunuh diri. (Pixabay)
Ilustrasi bunuh diri. (Pixabay)
0 Komentar

“Kasus seorang ibu yang memilih mengakhiri hidupnya bersama dua anaknya tentu sangat memilukan. Dari sisi psikologi, keputusan ekstrem seperti itu biasanya lahir dari beban batin yang sudah sangat berat dan berlarut-larut,” ujar Zahraini.

Ia menjelaskan bahwa seorang ibu bisa saja merasa terjebak dalam perasaan tidak berdaya, kesepian, dan himpitan masalah rumah tangga yang tidak kunjung selesai. Situasi ini bisa melahirkan rasa bersalah, gagal, dan hilangnya pandangan terhadap masa depan.

“Pergulatan batinnya makin rumit karena melibatkan peran sebagai seorang ibu. Dalam kondisi depresi atau putus asa yang sangat dalam, ia bisa salah menafsirkan cinta pada anak merasa bahwa “lebih baik anak ikut bersamanya” daripada harus ditinggal menghadapi dunia yang dianggap keras dan penuh masalah,” tambahnya.

Baca Juga:Memphis Depay Pecahkan Rekor, Jadi Top Skor Sepanjang Masa Timnas BelandaTunda Gelar Juara, Marc Marquez Pilih Bermain Aman di MotoGP Catalunya

Ia menekankan pentingnya peran keluarga, tetangga, dan masyarakat dalam memperhatikan tanda-tanda gangguan mental. Gejala seperti menarik diri, sering menangis diam-diam, bicara soal keputusasaan, atau menunjukkan kelelahan emosional ekstrem harus segera ditanggapi dengan empati dan tindakan nyata.

Yang paling penting, Billy menyoroti masih terbatasnya akses terhadap layanan psikologis di Indonesia, terutama di daerah pinggiran.

“Layanan konseling psikolog belum merata. Banyak orang yang tidak tahu harus menghubungi siapa ketika mengalami tekanan psikologis berat. Di sisi lain, stigma terhadap kesehatan mental juga membuat banyak orang takut bicara,” ujarnya.

Ia mengimbau pemerintah untuk memperluas layanan kesehatan jiwa di Puskesmas dan sekolah, serta mendorong edukasi mental health secara aktif melalui media massa.

Kasus tragis di Bandung ini harus menjadi pelajaran penting bahwa bunuh diri dapat dicegah jika ada intervensi dini, perhatian dari lingkungan, dan akses terhadap layanan kesehatan mental.

“Bunuh diri bukan soal kuat atau lemah. Ini soal seberapa besar seseorang merasa dimengerti dan didampingi. Maka dari itu, mari kita lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita,” tutup Billy.

0 Komentar