JABAR EKSPRES – Kericuhan aksi demonstrasi yang mengguncang Indonesia dalam beberapa hari terakhir ternyata menyimpan fakta mengejutkan. Ribuan rakyat turun ke jalan dengan membawa keresahan, mulai dari melonjaknya harga kebutuhan pokok, gelombang PHK, hingga tekanan pajak yang makin mencekik.
Namun, di balik teriakan perjuangan rakyat, muncul tanda tanya besar benarkah semua ini murni suara rakyat, atau ada skenario tersembunyi yang sengaja dimainkan oleh segelintir pihak?
Fakta yang tak bisa dipungkiri, kondisi Indonesia memang sedang berada di titik rawan. Masyarakat bisa saja bertahan menghadapi kesulitan ekonomi, namun yang paling menyulut amarah adalah ketidakadilan.
Baca Juga:Spoiler One Piece Chapter Terbaru: Identitas Traitor Rocks Terbongkar, Ternyata Ayah Caribou!Cara Dapat Uang Rp600.000 dari AI WhatsApp
Ketika keadilan tak lagi berpihak pada rakyat, api kemarahan dengan cepat membesar. Sejarah juga membuktikan, setiap kali rakyat bergerak, selalu ada pihak yang menunggangi. Aksi damai sering kali berujung pada kericuhan, penjarahan, hingga pembakaran fasilitas umum.
Apakah semua itu murni lahir dari rakyat? Sulit dipercaya. Membakar fasilitas, mengorganisir kerusuhan, bahkan menyebarkan propaganda butuh perencanaan dan koordinasi matang. Hal ini lebih menyerupai operasi terstruktur ketimbang amarah spontan rakyat biasa. Strategi semacam ini kerap disebut false flag menciptakan skenario chaos untuk memutarbalikkan fakta bahwa rakyat hanya ingin menuntut keadilan.
Jika strategi itu berhasil, penguasa bisa berdalih menerapkan kebijakan ekstrem, bahkan memberlakukan darurat militer. Dalam kondisi itu, kekuasaan absolut berada di tangan segelintir elit. Pertanyaan besarnya siapa yang paling diuntungkan jika skenario ini benar-benar terjadi?
Sayangnya, rakyatlah yang kembali menjadi korban. Kehilangan rasa aman, mata pencaharian, bahkan nyawa. Nama almarhum Afan Kurniawan, salah satu korban jiwa, menjadi bukti nyata bahwa rakyat harus membayar harga paling mahal dari kericuhan ini.
Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan pengakuan seorang penggiat media sosial, Ferry Irwandi. Melalui unggahan di Instagram, ia menyebutkan ada empat akun di media sosial X (dulu Twitter) yang diduga kuat sebagai dalang kericuhan aksi demo yang pecah sejak 25 Agustus 2025.
Menurut Ferry, akun-akun ini bukan sekadar menyuarakan pendapat, melainkan aktif memprovokasi massa dengan narasi berbahaya. Bahkan, ia menegaskan bahwa bila pihak keamanan benar-benar serius mencari akar kerusuhan, maka keempat akun ini harus segera diselidiki.
