Demo Meningkat, Psikolog Ingatkan Orang Tua Dampingi Anak Hadapi Situasi Sosial

Polres Bogor Amankan 197 Pelajar Yang Hendak Ikut Demo di Jakarta
Polres Bogor Amankan 197 Pelajar Hendak Ikut Demo di Jakarta/Foto : Sandika /jabarekspres.com
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Potensi demonstrasi susulan di sejumlah titik di Kota Bandung memunculkan kekhawatiran baru, tidak hanya terkait aspek keamanan, tetapi juga dampaknya terhadap kondisi psikologis anak. Ketika situasi sosial memanas, anak-anak menjadi kelompok rentan yang bisa terpapar informasi secara mentah baik dari televisi, media sosial, maupun cerita dari lingkungan sekitar yang dapat memengaruhi cara mereka memandang dunia.

Psikolog dari PT Martasandy Psychology Indonesia, Muhammad Rizky Romadhon, S.Psi, menekankan pentingnya peran orangtua dalam memberikan pemahaman yang tepat kepada anak mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Menurutnya, demonstrasi adalah bagian dari praktik demokrasi yang sah, tetapi sering kali anak hanya melihat sisi kericuhan karena pemberitaan media cenderung menampilkan konflik atau kekerasan secara visual.

“Demonstrasi pada dasarnya adalah salah satu cara masyarakat menyampaikan pendapat. Namun tidak jarang terjadi kericuhan karena adanya pihak-pihak yang bertindak tidak tertib. Penjelasan ini perlu disampaikan sesuai usia anak,” ujar Rizky.

Baca Juga:Permudah Akses Masyarakat, BSI Agen Siap Layani Pendaftaran BPJS KetenagakerjaanNarasi Berbeda di UNISBA: Presma Kecam Represif Aparat, Rektor Klaim Gas Air Mata Tak Sasar Kampus

Ia menjelaskan, untuk anak-anak usia dini, orangtua cukup menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan tidak menakut-nakuti. Sedangkan pada anak usia remaja, penjelasan bisa lebih mendalam, mencakup nilai-nilai demokrasi, hak untuk menyampaikan pendapat, dan pentingnya melakukan hal tersebut secara damai dan bertanggung jawab.

“Dengan begitu, anak tidak hanya memahami konteks situasi sosial yang sedang terjadi, tetapi juga tidak terjebak dalam rasa takut yang berlebihan. Mereka belajar bahwa konflik sosial itu nyata, tetapi bisa dihadapi dengan pikiran yang kritis dan tenang,” katanya.

Lebih lanjut, Rizky menyoroti pentingnya pendampingan orangtua dan guru dalam proses anak mengonsumsi informasi. Di era digital saat ini, paparan terhadap konten kekerasan atau informasi yang menyesatkan bisa datang dari berbagai arah. Bila tidak diawasi, hal ini bisa menimbulkan gangguan psikologis.

“Paparan visual kekerasan sebaiknya dibatasi. Orangtua perlu mengarahkan anak untuk mendiskusikan apa yang mereka lihat atau dengar, agar mereka belajar memilah informasi yang benar. Diskusi ini juga menjadi ruang yang sehat bagi anak untuk bertanya dan mengungkapkan rasa takut atau bingung mereka,” ungkapnya.

0 Komentar