Selain inflasi yang terkendali, tren positif juga tercermin dari neraca perdagangan yang tetap surplus sebesar 4,17 miliar dolar AS pada Juli 2025, meningkat 1,71 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya.
Surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) juga masih kuat, mencapai 2,2 miliar dolar AS untuk sektor nonmigas.
Dukungan eksternal datang dari meningkatnya aktivitas manufaktur di negara mitra dagang utama, serta kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor unggulan seperti batu bara, gas alam, kelapa sawit, dan karet. Sektor manufaktur berorientasi ekspor juga menguat dengan ekspor kendaraan, mesin, dan alas kaki yang tumbuh positif.
Baca Juga:Sri Mulyani Janji Evaluasi Usai Aksi Penjarahan, Benarkah?Ketua Komisi XI Usulkan Penurunan PPN, Demi Tingkatkan Konsumsi Masyarakat?
Pada saat yang sama, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada Agustus 2025 dengan indeks 51,5 setelah empat bulan kontraksi. Hal ini ditopang peningkatan pesanan dalam negeri maupun ekspor.
“Kembalinya PMI manufaktur ke zona ekspansi menunjukkan terus membaiknya kondisi ekonomi domestik dan optimisme pelaku usaha yang semakin menguat seiring dengan membaiknya kondisi daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan produksi pada periode mendatang,” ujar Airlangga.
Ke depan, lanjutnya, pemerintah berencana menjaga momentum pemulihan ekonomi lewat Kredit Industri Padat Karya dan mendorong konsumsi produk lokal lewat program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).
