JABAR EKSPRES – Pagi itu, suara riang anak-anak Sekolah Dasar (SD) Panaruban terdengar berbeda. Langkah kecil mereka menyusuri jembatan gantung yang baru saja diresmikan.
Dengan wajah ceria seolah tak percaya jalan baru itu kini terbentang di depan mata.
“Biasanya kami harus menyeberang pakai perahu kecil, kadang kalau air sedang tinggi suka takut juga. Sekarang lebih enak, lebih cepat sampai sekolah,” kata Dina (9), siswa kelas 3 SD yang setiap hari menyeberang Waduk Saguling dari Dusun Cijigud menuju sekolahnya.
Baca Juga:Out of the Box! Persib Umumkan Kedatangan Federico Barba dan Thom Haye Lewat Siarang Langsung TVRI JabarMotivator Kaya Raya Asal Jambi Jadi Tersangka Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI
Cerita Dina bukanlah kisah tunggal. Selama puluhan tahun, ribuan warga Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, harus bergelut dengan keterbatasan akses.
Empat dusun, seperti Cijigud, Bojonglangkap, Sampora dan Ciiraten terpisah oleh perairan Saguling dari pusat pemerintahan desa serta fasilitas utama.
“Kalau musim hujan, akses betul-betul sulit. Kadang perahu tidak bisa dipakai karena arus deras. Warga mau urus surat ke desa saja harus muter jauh lewat Cipongkor,” ungkap Asep Saepuloh, warga Dusun 01 Desa Karanganyar, sambil mengingat masa-masa sulit yang telah berlangsung sejak lama.
Harapan memiliki jembatan penghubung sejatinya sudah muncul sejak tahun 2003. Namun keterbatasan anggaran dan sulitnya medan membuat impian itu berulang kali tertunda. Hingga akhirnya Vertical Rescue Indonesia (VRI) bersama berbagai pihak membangun jembatan gantung sepanjang 120 meter dengan lebar 1,5 meter.
Rabu (27/8/2025) menjadi hari bersejarah bagi warga Karanganyar. Sebab, Kepala Staf Kepresidenan RI, Letjen TNI (Purn) Putranto, meresmikan langsung jembatan yang kini menjadi ikon baru desa. Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail pun turut hadir menyaksikan bersama ratusan warga yang sejak pagi sudah berbondong-bondong menyambut.
“Ini bukan sekadar jembatan besi, ini jembatan harapan. Anak-anak bisa sekolah lebih aman, petani bisa membawa hasil panen lebih mudah, dan warga yang sakit tidak lagi terhalang jarak,” singkat Asep Ismail.
Bagi petani seperti Enjah (52), kehadiran jembatan adalah titik balik hidupnya. Selama ini ia harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam hanya untuk membawa hasil panen ke pasar. Kini, dengan adanya jembatan, waktu tempuhnya berkurang drastis.
