“Biasanya kalau bawa sayuran ke pasar, kami muter lewat jalur yang jauh. Capek di jalan, kadang barang juga rusak duluan. Sekarang lebih cepat, alhamdulillah hasil panen bisa sampai dengan baik,” katanya sambil tersenyum lega.
Begitu juga bagi para orang tua yang selama ini was-was melepas anak mereka berangkat sekolah. Tidak sedikit yang memilih menemani, bahkan ada yang rela menyewa perahu demi memastikan anak-anak sampai dengan selamat.
“Dulu saya sering antar jemput anak pakai perahu. Kalau ombak besar, hati deg-degan. Sekarang sudah tenang, tinggal nyebrang lewat jembatan,” tutur Rani (34), seorang ibu rumah tangga.
Baca Juga:Out of the Box! Persib Umumkan Kedatangan Federico Barba dan Thom Haye Lewat Siarang Langsung TVRI JabarMotivator Kaya Raya Asal Jambi Jadi Tersangka Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI
Bagi masyarakat Karanganyar, jembatan ini bukan hanya infrastruktur, tetapi simbol dari perjuangan kolektif. Puluhan tahun warga bersabar, bergotong royong, dan akhirnya kerja sama dengan berbagai pihak yang membuahkan hasil nyata.
“Ini perjuangan yang panjang. Kalau dulu kami hanya bisa berharap, sekarang sudah terbukti bahwa impian warga desa bisa diwujudkan,” ucap Kepala Desa Karanganyar, Asep Hermawan.
Kini, jembatan gantung itu berdiri kokoh, menghubungkan dusun-dusun yang selama ini terpisah, sekaligus menyatukan harapan warga akan masa depan yang lebih baik.
“Dari perahu reyot yang penuh risiko, sekarang warga Karanganyar punya jalan baru yang lebih aman, cepat, dan penuh makna,” pungkas Asep. (Wit)
