JABAR EKSPRES – Lembang selain identik dengan kawasan wisatanya, juga dikenal sebagai penyuplai susu segar dari peternakan sapi perah. Namun di balik keindahan itu, ada masalah klasik yang tak kunjung selesai, yakni limbah kotoran sapi.
Setiap hari, ribuan ton kotoran hewan dibuang tanpa pengolahan memadai, mencemari sungai dan menimbulkan bau tak sedap.
Di tengah persoalan itu, muncul kisah inspiratif dari Ari (36), warga Kampung Areng, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang. Sejak 2016, ia berhasil membalikkan masalah limbah menjadi peluang emas dengan beternak cacing.
Baca Juga:Aliran Sungai Tercemar Kotoran Sapi, Warga Bandung Barat Kehilangan Pasokan Air BersihSungai Cimeta Dipenuhi Busa Putih, Kecelakaan Truk Sabun di Padalarang Diduga Pemicu
“Saya coba manfaatkan kotoran sapi untuk media dan pakan cacing. Alhamdulillah, sekarang tidak ada lagi kotoran yang terbuang sia-sia. Semuanya dimanfaatkan, bahkan jadi sumber penghasilan utama saya.” kata Ari di Lembang, Minggu (24/8/2025).
Dengan lahan sempit berukuran hanya 2×14 meter, Ari membudidayakan dua jenis cacing, yakni Lumbricus rubellus untuk kebutuhan obat herbal dan kosmetik, serta African Night Crawler (ANC) yang laris untuk pakan ternak ikan dan unggas. Hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan, ia sudah bisa memanen cacing.
Dari usaha kecil itu, Ari mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp4 juta per bulan.
“Dulu orang mungkin jijik kalau dengar soal cacing. Tapi buat saya, cacing ini justru penyelamat,” ucapnya.
Keberhasilan Ari tak hanya berdampak pada ekonomi keluarganya, tapi juga lingkungan sekitar. Kampung Areng yang dahulu kerap dipenuhi tumpukan kotoran sapi kini jauh lebih bersih. Warga mulai terinspirasi untuk mengikuti jejak Ari, menjadikan kotoran sebagai aset, bukan lagi beban.
Kisah Ari hanyalah secuil dari persoalan besar yang dihadapi Bandung Barat. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispernakan) KBB, populasi sapi perah di wilayah ini mencapai 25.600 ekor yang tersebar di Kecamatan Lembang, Parongpong, dan Cisarua.
Setiap ekor sapi menghasilkan rata-rata 12 kilogram kotoran per hari. Artinya, lebih dari 300 ton limbah tercipta setiap harinya. Sayangnya, hanya sekitar 30 persen dari 6.000 peternak yang memiliki fasilitas pengolahan limbah. Akibatnya, sebagian besar kotoran dibuang langsung ke sungai, membuat air keruh, menimbulkan bau, dan sulit dimanfaatkan warga.
