Selain itu, Pemkab Bandung Barat tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi dampak pencemaran. Salah satunya dengan membangun tandon dan sistem penyaringan di hulu sungai agar kotoran padat tidak langsung terbawa arus.
“Kami akan pasang saringan di bagian atas tandon untuk memisahkan kotoran padat dari aliran air,” ujar Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti saat dikonfirmasi belum lama ini.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik dan media tanam. Kolaborasi dilakukan bersama koperasi peternak, di antaranya KPSBU, KUD Puspa Mekar, dan KUD Sariwangi.
Baca Juga:Aliran Sungai Tercemar Kotoran Sapi, Warga Bandung Barat Kehilangan Pasokan Air BersihSungai Cimeta Dipenuhi Busa Putih, Kecelakaan Truk Sabun di Padalarang Diduga Pemicu
“Dengan pola kolaborasi, limbah yang selama ini mencemari lingkungan diharapkan bisa berubah menjadi komoditas ekonomi yang bermanfaat bagi peternak,” imbuh Wiwin.
Upaya pemerintah itu sejalan dengan apa yang sudah lebih dulu dilakukan Ari.
Melalui inovasi sederhana, Ari membuktikan bahwa limbah bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi. Bahkan, berkat pemasaran daring, ia kini memasok cacing ke berbagai wilayah Indonesia untuk kebutuhan pakan ternak, industri kosmetik, hingga farmasi.
“Sekarang saya tidak perlu keluar kampung untuk menjual produk. Semua bisa lewat online,” kata Ari bangga.
Kisah Ari menjadi pengingat bahwa solusi besar bisa berawal dari langkah kecil. Ketika ribuan ton kotoran sapi masih menjadi masalah klasik di Bandung Barat, seorang warga kampung justru mampu menjadikannya jalan hidup.
“Kalau kita mau melihat lebih jauh, apa pun bisa jadi peluang. Bahkan dari kotoran sekalipun,” pungkas Ari. (Wit)
