Data lain dari BPS melalui Survei Biaya Hidup (SBH) menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran konsumsi keluarga di Jakarta mencapai Rp15 juta per bulan. Angka ini sudah mencakup kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, hingga kesehatan.
Dengan demikian, ada perbedaan cukup besar antara angka standar hidup layak versi BPS dengan realitas di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya hidup di Jakarta memang tinggi dan menuntut perencanaan keuangan yang matang bagi setiap pekerja.
Perlu diketahui, angka pengeluaran konsumsi yang dirilis BPS tadi merupakan hasil survei tahun 2022. Artinya, pada tahun 2025 jumlahnya kemungkinan sudah meningkat karena adanya inflasi setiap tahun.
Baca Juga:13 Rahasia Orang Cina Mengelola Uang hingga Jadi KayaReview Kawasaki KLX 110R 2025: Motor Trail Pemula Desain Sporty Cocok untuk Belajar Offroad
Sebagai gambaran, pada 2025 UMR Jakarta berada di kisaran Rp5,3 juta per bulan. Jika dalam sebuah keluarga terdapat dua orang yang bekerja dengan gaji UMR, maka total pendapatan rumah tangga tersebut sekitar Rp10 juta per bulan. Jumlah ini masih belum mencapai angka rata-rata pengeluaran konsumsi keluarga di Jakarta menurut BPS.
Yang lebih mengejutkan, data BPS menunjukkan bahwa rata-rata upah buruh di Jakarta justru turun pada 2025. Dari Rp5,8 juta pada Agustus 2024 menjadi Rp4,9 juta pada Februari 2025, atau turun hampir Rp1 juta. Kondisi ini menunjukkan semakin sulitnya masyarakat untuk bisa hidup layak di ibu kota.
Meningkatnya Tren Pekerjaan Sampingan
Tingginya tuntutan biaya hidup membuat banyak orang berusaha menambah penghasilan. Salah satu caranya adalah melalui pekerjaan sampingan atau side hustle. Fenomena ini terlihat jelas di berbagai platform, misalnya TikTok, di mana semakin banyak konten yang membagikan tips mendapatkan penghasilan tambahan hanya bermodal laptop.
Data BPS pun mendukung tren ini. Pada 2019, jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan hanya sekitar 14%. Namun, pada 2023 angkanya meningkat menjadi 17%.
Alasan utama orang mencari pekerjaan sampingan tentu karena faktor ekonomi. Sekitar 65% pekerja dengan side hustle di Indonesia mengaku bahwa pendapatan utama mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini wajar, mengingat rata-rata gaji buruh di Jakarta hanya sekitar Rp4,9 juta, sementara rata-rata pengeluaran keluarga mencapai hampir Rp15 juta per bulan. Gap pendapatan dan pengeluaran inilah yang akhirnya mendorong pekerja mencari sumber pendapatan tambahan.
