Perhitungan Standar Hidup Layak di Jakarta, Cukupkah Gaji Rp10 Juta?

Perhitungan Standar Hidup Layak di Jakarta
Perhitungan Standar Hidup Layak di Jakarta. Ilustrasi: Antaranews
0 Komentar

Fenomena Rojali dan Rohana

Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki pekerjaan sampingan? Mau tidak mau, konsumsi harus ditekan. Inilah yang kemudian melahirkan fenomena Rojali (Rombongan Jalan-jalan dan Lihat-lihat) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya-nanya). Banyak masyarakat datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk sekadar melihat-lihat atau bertanya harga, tanpa benar-benar membeli.

Fenomena ini mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat. Orang mulai menunda pembelian kebutuhan sekunder, dan hanya memprioritaskan kebutuhan primer. BPS bahkan mencatat bahwa kelompok masyarakat kelas menengah dan atas kini cenderung menahan konsumsi.

Menurut BPS, fenomena Rojali dan Rohana merupakan sinyal serius bagi pemerintah untuk fokus menjaga daya beli masyarakat. Gap antara pendapatan yang stagnan (bahkan cenderung turun) dan pengeluaran yang terus meningkat berpotensi memperlebar kesenjangan. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka semakin sulit bagi masyarakat Jakarta untuk bisa hidup layak.

Baca Juga:13 Rahasia Orang Cina Mengelola Uang hingga Jadi KayaReview Kawasaki KLX 110R 2025: Motor Trail Pemula Desain Sporty Cocok untuk Belajar Offroad

Masalah hidup layak di kota besar seperti Jakarta bukanlah hal yang sederhana. Persoalan ini sudah menjadi masalah sistemik yang terus berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Celios, Mayuristira Bima, menyebutkan bahwa seorang pekerja lajang di Jakarta seharusnya memiliki gaji sekitar Rp10 juta per bulan agar dapat hidup layak. Pertimbangannya jelas: biaya hidup di ibu kota terus meningkat, sementara UMP masih berada di kisaran Rp5 jutaan. Menurutnya, formulasi penghitungan upah minimum saat ini sudah tidak lagi relevan dengan kondisi nyata.

Secara sederhana, solusi untuk menciptakan hidup layak di Jakarta hanya ada dua: menaikkan upah pekerja atau menurunkan harga kebutuhan hidup. Namun tentu saja, implementasi keduanya tidak mudah karena terdapat banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan, baik oleh pemerintah maupun pengusaha.

Di sisi lain, para perencana keuangan menekankan pentingnya budgeting dalam menghadapi biaya hidup yang kian tinggi. Mereka menyarankan setiap orang, terlepas dari besar kecilnya pendapatan, untuk tetap menyisihkan dana darurat dan berinvestasi. Jumlahnya tidak harus besar, tetapi dua pos keuangan tersebut sangat penting untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.

Selain itu, jika ada kesempatan, tidak ada salahnya mencoba menambah penghasilan lewat pekerjaan sampingan atau side hustle. Memang tidak mudah, tetapi kini tersedia banyak informasi dan peluang yang bisa dimanfaatkan.

0 Komentar