“Semakin enggak nyaman kita. Kalau dulu banjir satu sampai dua hari juga warga tetap aman, ini jadi gak aman karena bahaya kejebur (terperosok) ke selokan (saluran air),” ungkapnya.
Didin menyebutkan, proyek normalisasi drainase yang hanya membongkar jembatan ke kios, toko, rumah dan jalan ke pemukiman kini semakin terasa dampaknya.
Sejumlah warga kian resah terhadap proyek normalisasi drainase yang mangkrak tersebut. Tak hanya usaha warga tapi petani turut mengalami dampaknya.
Baca Juga:Warga Lebaksari Ngamprah Protes, Janji Penanganan Banjir Cuma RetorikaPeringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah, Ini Acara yang Bisa Kamu Ikuti
Petani yang biasa dapat mengangkut hasil panen menggunakan mobil, kini kendaraan roda empat harus diparkirkan di pinggir jalan. Setiap karung harus dipanggul mandiri.
Bahkan, akibat proyek normalisasi drainase ini hanya sebatas pembongkaran, tapi belum juga dilanjutkan dan tanpa ada pengamanan, lambat laun para pengusaha menutup kios atau tokonya.
Didin menyampaikan, saat ini warga terdampak proyek normalisas drainase yang mangkrak hanya bisa pasrah dan berharap, agar pengerjaan perbaikan dapat dilanjutkan.
“Ekonomi warga seakan dilumpuhkan. Pengurus RW didesak warga, menuntut kapan diselesaikan proyek. Tapi sisi lain pengurus juga gak bisa berbuat banyak, karena awal proyek ini yang turun dari kabupaten,” imbuhnya.
“Warga terdampak, warga dirugikan, warga resah dan terancam keselamatannya, warga juga tidak nyaman. Permintaan warga hanya satu, agar proyek ini segera diselesaikan,” pungkas Didin. (Bas)
