Dugaan Kekerasan di SMAT Krida Nusantara, Pengamat Soroti Lemahnya Pengawasan Sekolah hingga Peran Disdik

Dugaan Kekerasan di SMAT Krida Nusantara, Pengamat Soroti Lemahnya Pengawasan Sekolah hingga Peran Disdik
Gerbang menuju SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dugaan aksi perundungan hingga tindak kekerasan di Sekolah Menengah Atas Terpadu atau SMAT Krida Nusantara, yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung menuai banyak sorotan.

Bagaimana tidak, sejumlah siswa diduga menjadi korban perilaku buruk yang dilakukan oleh kakak kelas kepada juniornya. Bahkan terdapat anak harus dirawat ke rumah sakit, karena tulang belakang retak hingga alami depresi berat.

Oleh karenanya, pembimbingan serta pengawasan dari pihak sekolah perlu menjadi perhatian. Pasalnya, kekerasan yang diduga dialami para korban di SMAT Krida Nusantara Bandung harus bisa ditelusuri kebenarannya.

Baca Juga:Dugaan Perundungan dan Kekerasan di SMAT Krida Nusantara, Pengawasan Sekolah DipertanyakanPelaku Masih di Bawah Umur, Kasus Perundungan di Ciparay Berakhir Damai

Pengamat Kebijakan Pendidikan, Prof Cecep Darmawan mengatakan, jika ada kasus dugaan perundungan dan kekerasan di sekolah, maka yang perlu disoroti dalam konteks ini adalah pengawasannya.

“Bukan soal sekolah atau di mana, tapi ini soal pengawasan. Saya yakin kurang pengawasan,” katanya kepada Jabar Ekspres melalui seluler, Rabu (6/8).

Cecep menerangkan, apabila di lingkungan pendidikan pengawasannya bagus, maka potensi terjadinya pelanggaran baik berupa pertikaian, perundungan hingga kekerasan dapat dicegah sebelum terjadi.

“Jika pengawasan bagus, maka ketika ada yang mau melanggar pasti enggan (melakukannya),” terangnya.

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu menilai, dalam sebuah aksi perundungan dapat didorong oleh beberapa faktor, tapi yang paling utama perilaku buruk tersebut timbul akibat minimnya pengawasan pihak sekolah.

“Menurut saya bukan ditentukan oleh (sekolah) asrama dan bukan asrama, itu bukan faktor penyebab perundungan, tapi ekosistem pendidkan apakah ramah atau sebaliknya,” papar Cecep.

Menurutnya, apabila ekosistem di lingkungan sekolah itu ramah, maka perilaku buruk siswa pun tak akan muncul, seperti perundungan hingga kekerasan juga dapat dicegah agar tidak menimbulkan korban.

Baca Juga:Korban Perundungan Ciparay Jalani Pemeriksaan, Kasus Diambil Alih Tim Hukum Dedi MulyadiKPAD Kabupaten Bandung Kecam Keras Aksi Perundungan di Ciparay, Siap Kawal Proses Hukum

Diungkapkan Cecep, ekosistem yang baik dan ramah di lingkungan pendidikan, dapat dibangun tergantung seperti apa peran pemimpin alias kepela sekolahnya.

“Siapa yang membuat ekosistem baik ya pimpinannya, kemudian pimpinan harus bisa menjalankan ekosistem yang baik tersebut,” ungkapnya.

Menanggapi dugaan kasus perundungan dan kekerasan di SMAT Krida Nusantara Bandung, Cecep menilai, dalam hal ini tak hanya pengawasan di sekolah saja yang harus disorot, tetapi Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) juga perlu hadir.

0 Komentar