1. Prosesor Intel Tidak Optimal
Pada awal kemunculannya, Zenfone menggunakan prosesor Intel yang ternyata kurang optimal untuk sistem Android. Meskipun pada akhirnya Asus beralih ke Snapdragon, momentum keemasan mereka sudah terlewatkan.
2. Antarmuka (UI) Berat dan Kurang Matang
ZenUI saat itu memang terlihat menarik, namun terlalu berat dan belum stabil. Banyak pengguna mengeluhkan lag, bug, dan boros baterai. Hal ini membuat sebagian besar konsumen kecewa dan beralih ke merek lain.
3. Desainnya Kurang Inovatif
Saat merek-merek lain seperti Xiaomi, Oppo, dan Samsung berlomba menghadirkan smartphone dengan desain kekinian, Zenfone justru stagnan. Desain mereka terasa ketinggalan zaman, seolah berasal dari beberapa tahun sebelumnya.
Baca Juga:Harga Mobil Listrik Bekas Bisa Anjlok Drastis, Ini Penyebabnya10 Game Android Baru Rilis 2025 dengan Grafik Keren dan Cerita Menarik
4. Salah Sasaran Pasar
Beberapa tahun setelah sukses di segmen menengah, Asus justru mengalihkan fokus ke seri seperti Zenfone Deluxe, Zenfone Zoom, dan varian premium lainnya. Sementara itu, segmen menengah dan entry-level yang dulu menjadi kekuatan utama mereka justru ditinggalkan.
Alih-alih bersaing di pasar mainstream yang padat, Asus memilih mengambil jalur berbeda dengan fokus pada segmen gaming melalui lini ROG Phone. Keputusan ini terbukti sukses, karena ROG Phone berhasil menjadi ikon smartphone gaming premium yang dicintai para gamer sejati.
Namun, kesuksesan ROG justru menjadi bumerang bagi Zenfone. Fokus utama Asus tampaknya hanya tertuju pada ROG, membuat Zenfone seperti “anak tiri” yang dirilis sekadar untuk memenuhi kewajiban. Saat ini, Zenfone sebenarnya masih ada, dan kualitasnya pun tidak bisa diremehkan. Contohnya adalah Zenfone 9 dan Zenfone X, yang menawarkan desain ringkas, spesifikasi kelas atas, antarmuka ringan, dan daya tahan baterai yang sangat baik.
5. Minim Promosi
Sayangnya, produksi perangkat ini terbatas, harga tidak kompetitif, dan minim promosi. Akibatnya, banyak orang tidak tahu bahwa Zenfone masih eksis. Kalaupun tahu, mereka akan berpikir dua kali karena ekosistem dan layanan purna jualnya kalah jauh dibandingkan Samsung atau Xiaomi.
Dari perjalanan Asus Zenfone, kita bisa mengambil pelajaran penting. Inovasi dan harga terjangkau dapat membuat sebuah merek melejit, tetapi konsistensi dan kemampuan beradaptasi yang menentukan apakah merek tersebut bisa bertahan.
