Cerita Kinanti, Gadis Kecil dari Leuwigajah yang Belajar Mandiri di SRMP 8 Cimahi

Cerita Kinanti, Gadis Kecil dari Leuwigajah yang Belajar Mandiri di SRMP 8 Cimahi
Siswa di SRMP 8 Cimahi tengah belajar dengan serius
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Senyum ceria Kinanti (13) merekah saat ditanya bagaimana rasanya belajar jauh dari orang tua.

Siswi kelas 7 di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi itu justru mengaku bahagia dan nyaman tinggal di asrama.

Sekolah SRMP 8 Cimahi hadirkan pendidikan adaptif bagi siswa rentan dengan asrama nyaman, tiga kurikulum, dan pembinaan empati.

Baca Juga:Wali Asuh Jadi Kunci Ketahanan Mental Siswa SRMP 8 CimahiCimahi Ganti Study Tour dengan Walking Tour, Ini 5 Lokasi yang Dikunjungi Siswa

Di sekolah ini, Kinanti dan kawan-kawan tak hanya diajarkan soal angka dan huruf. Tapi juga tentang kemandirian, empati, dan harapan yang tak boleh padam.

“Senang, bahagia, bisa belajar sendiri di sini. Jadi kita tanpa orang tua juga bisa sendiri di sini, karena di sini terjaga, nyaman, bagus fasilitasnya,” katanya dengan polos saat disambagi Jabar Ekspres di sekolah, Sabtu 2 Agustus 2025.

Kinanti berasal dari Leuwigajah, Kihapit Timur. Sebelumnya ia menempuh pendidikan dasar di SDN Leuwigajah V.

Kini, di SRMP 8 Cimahi, ia menempuh pendidikan dengan suasana yang jauh berbeda. Bukan hanya kelas, ia juga tinggal di asrama dan mulai belajar mandiri sejak usia belia.

Untuk kebutuhan pribadi, termasuk jajan, Kinanti mendapat bekal dari orang tua.

“Setiap ke sini kadang dikasih, atau entar dikasih bawain ciki-ciki gitu,” ungkapnya sambil tersenyum kecil.

Soal pelajaran, ia mengaku cukup mudah memahaminya.

“Enggak sih, paling yang sulit itu kalau nanya nggak ngerti baru sulit, kalau ngerti itu gampang,” ujarnya santai.

Baca Juga:Jelang HUT RI ke-80, Pedagang Bendera Merah Putih di Cibinong Keluhkan Sepinya Pembeli Wakil Komisi III Sependapat dengan Pembentukan Superholding BUMD

Kinanti mengungkapkan, tinggal di asrama membuatnya cepat belajar mandiri. Rasa rindu pada orang tua pun perlahan memudar, meski sempat muncul di awal-awal tinggal.

“Pernah waktu hari-hari pertama, tapi makin ke sini makin udah terbiasa, jadi udah agak hilang rasa kangennya,” ujarnya.

Orang tua tetap bisa mengunjungi anak-anak mereka sesuai jadwal kunjungan.

“Yang perempuan itu hari Minggu, yang laki-laki hari Sabtu,” kata Kinanti.

Soal kebersihan, para siswa dijadwalkan piket rutin dari pagi hingga malam. Mereka dilatih tanggung jawab untuk menjaga lingkungan asrama.

Selain pelajaran formal, SRMP 8 juga menyajikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, PMR, OSIS, musik, hingga klub memasak.

0 Komentar