“Layang-layang ini bukan hanya permainan anak-anak, tapi juga bagian dari memori kolektif desa. Sekarang saatnya kita hidupkan lagi,” ungkapnya.
Tak sedikit orang tua yang merasa senang dengan adanya kegiatan ini. Mereka mengaku anak-anak mereka menjadi lebih aktif dan mulai mengurangi waktu bermain ponsel, terutama di sore hari yang biasanya dihabiskan di dalam rumah.
“Biasanya anak saya cuma main HP di rumah, sekarang tiap sore latihan main layangan bareng teman-temannya. Saya senang lihat mereka lari-larian di lapangan lagi,” ujar Rini (38), salah satu warga yang anaknya ikut serta dalam festival.
Baca Juga:BPS Catat Tren Positif Pergerakan Wisatawan di tengah Demo Pekerja Pariwisata JabarFenomena Gemuruh dan Getaran Misterius, Warga di 2 Desa Bandung Barat Ketakutan
Dia berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial HUT RI, tapi bisa menjadi kegiatan tahunan yang berkelanjutan. Selain memperkuat nilai kebudayaan lokal, kegiatan ini juga menjadi solusi sederhana namun efektif untuk menghadapi tantangan zaman mengembalikan dunia bermain anak-anak ke dunia nyata, bukan dunia layar.
“Harapannya, tradisi ini terus hidup. Anak-anak kita butuh ruang bermain yang sehat, bukan sekadar hiburan digital. Layangan bisa jadi jawabannya,” pungkas Rini. (Wit)
