Festival Layangan di Girimukti, Upaya Kolektif Jauhkan Anak dari Gadget

Anak-anak Desa Girimukti, Bandung Barat memilih bermain layangan bersama teman-teman, jauh dari gawai. Dok Jab
Anak-anak Desa Girimukti, Bandung Barat memilih bermain layangan bersama teman-teman, jauh dari gawai. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah keprihatinan akan meningkatnya ketergantungan anak-anak terhadap gawai, Karang Taruna Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menghadirkan alternatif yang tak hanya menyenangkan, tapi juga sarat nilai budaya, yakni Festival Pertandingan Layangan.

Festival Layangan ini digelar dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Namun kegiatan ini lebih dari sekadar lomba perayaan, festival ini diharapkan mampu menjadi ruang baru bagi anak-anak desa untuk bermain di luar ruangan, bergerak aktif, bersosialisasi, dan yang paling penting menjauhkan diri dari paparan layar gadget yang berlebihan.

Baca Juga:BPS Catat Tren Positif Pergerakan Wisatawan di tengah Demo Pekerja Pariwisata JabarFenomena Gemuruh dan Getaran Misterius, Warga di 2 Desa Bandung Barat Ketakutan

Ketua Pelaksana, Acep Rukmana, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan semangat melestarikan budaya sekaligus menjawab keresahan banyak orang tua yang melihat anak-anaknya semakin asyik di dunia digital.

“Peminatnya banyak dan yang terpenting adalah anak-anak di perkampungan tidak terlalu ketergantungan bermain gadget,” ujarnya saat ditemui, Jumat (1/8/2025).

Acep menekankan, permainan layangan merupakan warisan budaya yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik. Anak-anak yang mengikuti lomba ditantang untuk merancang dan menerbangkan layangan mereka sendiri sebuah proses yang melatih kreativitas, kesabaran, dan keterampilan motorik halus.

“Lomba layangan juga bisa menjadi ajang ekspresi seni kreatif bagi para pembuat dan penerbangnya,” tambahnya.

Selain itu, kata Acep kegiatan ini juga berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental anak-anak. Berada di luar ruangan, berinteraksi dengan teman sebaya, dan bergerak aktif secara fisik menjadi bentuk rekreasi yang tak bisa digantikan oleh permainan digital.

“Bermain layangan memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Ini juga jadi hiburan masyarakat yang murah, sehat, dan menyenangkan,” kata Acep.

Antusiasme masyarakat terhadap festival ini pun tinggi. Sejak dibuka pendaftarannya, tercatat lebih dari 100 peserta telah mendaftarkan diri. Pendaftaran masih akan dibuka hingga 4 Agustus 2025, dan jumlah peserta diprediksi terus bertambah.

Baca Juga:Pedagang Ayam Cimahi Tertekan Perang Harga hingga Ancam Gelar Demo, Ini Kata DisdagkoperinSampah Basah Cimahi Siap Meledak, Penimbangan di Sarimukti Bikin Panik DLH

Ia menambahkan, festival ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Hal ini sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga dan antar generasi, karena permainan layangan memang memiliki tempat tersendiri dalam kenangan masa kecil banyak orang.

0 Komentar