Imbas Larangan Gawai, Begini Cara Siswa di Cimahi Adaptasi di Sekolah!

Lebih Sering ke Perpustakaan, Begini Cara Siswa Cimahi Adaptasi tanpa Gawai
Situasi Siswa Siswi SMPN 8 Cimahi saat Belajar tanpa Mengunakan Gawai/Friman Satria/Jabar Ekspres/
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, resmi melarang siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) membawa ponsel ke sekolah.

Aturan serupa juga berlaku untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dilarang membawa sepeda motor ke sekolah di seluruh wilayah Jawa Barat.

Di Kota Cimahi, kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan siswa. Sejumlah pelajar menyambut baik keputusan ini karena dinilai mendorong interaksi sosial dan meningkatkan fokus belajar.

Baca Juga:Kembalikan Duit Negara Rp3 Miliar, Tersangka Korupsi Karavan Covid-19 Tak Lolos Jerat HukumGugatan Melawan Jawa Pos, Nany Widjaja dan Dahlan Iskan Perkuat Posisi di Sidang

Namun, sebagian lainnya mengaku kesulitan berkomunikasi dengan orang tua tanpa kehadiran gawai.

Siswi kelas 9 di SMPN 6 Cimahi, Ashya (15), mengaku menolak aturan tersebut. Menurutnya, gawai dibutuhkan sebagai alat komunikasi dengan orang tua, terutama saat ia pulang atau berangkat sekolah.

“Aku biasa mengabari orang tua. Ada sisi-sisi yang memang harus dilakukan untuk komunikasi dengan orang tua,” ujarnya saat ditemui Jabar Ekspres di sekolah, Rabu (30/7).

Ashya menjelaskan, sejak pelarangan gawai diberlakukan, pihak sekolah membentuk grup komunikasi antara wali kelas dan orang tua untuk menyampaikan informasi mengenai kepulangan siswa.

Kini, kata Ashya, kegiatan belajar jadi lebih konvensional, kembali menggunakan buku.

“Sekarang belajar juga jadi murni pakai buku, jadi kalau setiap istirahat ya udah saja ngobrol sama teman-teman,” tuturnya.

Meski awalnya keberatan, Ashya mengakui ada sisi positif dari pelarangan tersebut. Kini ia merasa lebih mudah berinteraksi dengan teman sebaya, dan suasana belajar terasa lebih fokus.

Baca Juga:PT BDS Dituding Tipu Pengusaha, Vendor Tuntut Penegakan Hukum TegasDituding Tunggak Gaji Dokter Miliaran, Ini Kata Manajemen RSIA Kartini Padalarang

“Bisa lebih berinteraksi sama semua teman-teman. Paling kalau gabut atau bete ya tidur saja di kelas kalau jam istirahat,” ucapnya sambil tertawa.

Senada dengan itu, siswa SMPN 8 Cimahi, Ariffta Kurniawan, menilai aturan ini cukup baik karena mendorong siswa untuk bersosialisasi di luar kelas.

“Jadi anak-anak itu lebih banyak sosialisasi di luar kelas, nggak terlalu kumpul di dalam,” ujar Ariffta, yang juga duduk di kelas 9.

Namun demikian, ia menyadari bahwa untuk urusan akademik, ketiadaan gawai memang sedikit menyulitkan.

“Kalau buat pelajaran, paling jadi agak lebih sulit dikit buat cari-cari. Kayak IPA gitu, suka ada bahan-bahan tambahan,” jelasnya.

0 Komentar