JABAR EKSPRES – Permasalahan gagal bayar oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Bandung, PT Bandung Daya Sentosa (BDS), terhadap sejumlah vendor terus bergulir dan menuai sorotan.
Isu dugaan penipuan pun mengemuka, menyusul pengakuan dari sejumlah pengusaha yang merasa dirugikan dalam kerja sama pengadaan ayam boneless dada (BLD).
Hal itu mengemuka dalam podcast pada saluran Bambang Widjojanto yang menghadirkan sejumlah pengusaha hingga menyeret beberapa nama pejabat.
Baca Juga:Dituding Tunggak Gaji Dokter Miliaran, Ini Kata Manajemen RSIA Kartini PadalarangDugaan Kebocoran Data 4,6 Juta Warga, Legislator PPP Desak Pemprov Trasparan
Salah satu pengusaha yang menyuarakan keluhan secara terbuka adalah CEO CV Indofarm, Deded Aprila.
Ia mengaku mengalami kerugian hingga Rp33 miliar akibat tidak kunjung dibayarnya tagihan oleh PT BDS.
“Terdapat 19 perusahaan yang menjadi korban. Saya yang paling besar kerugiannya, sebesar Rp33 miliar. Mereka menyebut kami vendor, tetapi kami melihat diri kami sebagai korban,” ujar Deded saat dihubungi, Rabu (30/7/2025).
Deded mengisahkan, awal mula kerjasama terjadi setelah dirinya diperkenalkan kepada seseorang yang mengaku memiliki kedekatan dengan pihak Pemerintah Kabupaten Bandung.
Dari perkenalan tersebut, ia ditawari peluang bisnis untuk menyuplai ayam dalam jumlah yang sangat besar yakni 500 ton per minggu.
“Jadi salah satu bidang usaha kami adalah pangan, menyuplai bahan-bahan makanan. Lalu saya ditawari proyek pengadaan ayam yang sangat besar,” tuturnya.
Karena keterbatasan modal, Deded hanya mampu memenuhi sebagian dari permintaan tersebut. Ia menggambarkan, nilai 100 ton ayam saja bisa mencapai hampir Rp4 miliar.
Baca Juga:Gaya Lokal Jadi Global! Indonesia Gandeng Prancis Lewat Fesyen dan KriyaSumsel Siaga! Menkopolkam Minta Pemda Tangani Karhutla Serius dan Terpadu
Selanjutnya, ia dikenalkan kepada Direktur Utama PT BDS, Yanuar Budi Norman, melalui panggilan video, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan langsung di sebuah hotel di kawasan Soreang.
“Meeting itu berlangsung di Grand Sunshine Hotel. Saat itu juga hadir seseorang yang mengaku sebagai Direktur Keuangan PT BDS,” jelasnya.
Namun, Deded mulai mencurigai adanya kejanggalan karena pembayaran dilakukan secara mencicil. Ia pun sempat meminta penjelasan langsung dari pihak PT BDS dalam pertemuan di Jakarta.
“Saya bertanya, ayam sebanyak itu untuk apa? Dirut PT BDS menjawab, untuk program ketahanan pangan. Katanya daging ayam diolah menjadi makanan beku seperti bakso dan sosis, lalu dikirim ke PT Cahaya Frozen Raya (CFR),” kata Deded.
