Harga Beras Naik, Omzet Pedagang di Kota Bandung Malah Turun 60 Persen! 

Harga Beras Naik, Omzet Pedagang di Kota Bandung Malah Turun 60 Persen! 
Pedagang menjual beras jenis premium di Pasar Kosambi, Jalan Jendral Acmad Yani, Kota Bandung, Jumat (25/7). Pedagang menyebutkan kenaikan harga beras ini terjadi di berbagai kota, di toko miliknya harga beras premium naik menjadi Rp16 ribu dari semula Rp15 ribu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Harga beras di sejumlah pasar mengalami kenaikan bertahap sejak awal Juli 2025. Kenaikan terjadi antara Rp100 hingga Rp300 per kilogram, tergantung jenis beras. Hingga saat ini sampai menyentuh Rp1.000.

Pedagang beras Andri (35) menyebut, harga beras premium naik dari Rp16.000 menjadi Rp17.000 per kilogram. Sedangkan beras termurah yang sebelumnya Rp13.000 kini dijual Rp14.000.

“Kenaikan hampir melebihi seribu rupiah, cuma bertahap,” ujar Andri saat ditemui Jabar Ekspres di kiosnya, di Pasar Kosambi, Jumat (25/7).

Baca Juga:Proyek Normalisasi Drainase di Rancaekek Masih Mangkrak dan Tak Ada Kejelasan, Diduga Proyek Ilegal?Gara-gara Dimarahi Guru, Siswa SD di Pameungpeuk Kabupaten Bandung Nekat Lakukan Aksi Percobaan Bunuh Diri

Menurutnya, ketersediaan beras masih aman, namun hasil panen menurun akibat gagal panen yang meluas.

“Kalau dari satu kuintal padi bisa jadi 60 sampai 70 kilogram beras, sekarang cuma 50 kilogram,” kata dia.

Adapun Pasokan beras yang dirinya jual mayoritas berasal dari wilayah Ciparay, Kabupaten Bandung. Hampir semua daerah disebut terdampak faktor cuaca yang mempengaruhi hasil panen.

Andri juga mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, omzetnya merosot hingga 60 persen. “Yang biasanya beli sekarung, sekarang beli kiloan,” ujarnya.

Dia mengatakan penjualan sejauh ini masih stabil. Namun, dirinya berharap upaya stabilisasi harga pun dari pemerintah dilakukan tanpa melibatkan perantara.

“Semoga sistemnya langsung, Bulog turun tangan ke toko. Bukan sama perantara,” harapnya.

Hal serupa pun dialami para pedagang beras di Pasar Kiaracondong. Menurut Dedi (61), kenaikan harga turut terjadi bahkan beberapa minggu ke belakang. Bertahap dan sampai menyentuh kenaikan Rp1.000.

Baca Juga:Isu Beras Oplosan Tak Pengaruhi Pedagang di Pasar Kosambi, Sebut Pembeli Hanya Lebih WaspadaKontroversi Seleksi BAZNAS Kota Banjar, Dugaan Nepotisme dan Politisasi Lembaga Zakat Menguat

“Harga naik terus betul. Kalau di sini sudah dari tiga minggu lalu. Dari harga Rp15 ribu, sekarang Rp16 ribu. Ada juga dari yang menyentuh Rp17 ribu. Tapi Alhamdulillah kalau stok aman,” ceritanya.

Namun Dedi mengaku terkena dampak dari kenaikan harga. Seperti salah satunya mulai mengurangi jumlah pembelian, meskipun yang berbelanja beras masih ada. Sebab, kata dia, mau tidak mau beras merupakan kebutuhan primer.

“Memang iya ada pengurangan pembelian dari 5 kilo, jadi dikurangin. Biasa yang beli karungan jadi tidak,” ungkap Dedi.

“Daya beli sekarang juga menurun. Ekonomi keadaan situasi begini. Biasa rame sekarang jadi sepi. Omzet sekarang menurun tentu saja. Tapi masih di bawah 50 persen,” pungkasnya.

0 Komentar