JABAR EKSPRES – Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Darwis Sitorus turut merespon gejolak isu beras oplosan yang tengah berkembang di masyarakat.
Menurutnya, masalah itu harus segera ditindak. Agar tidak berdampak signifikan pada perekonomian masyarakat.
Darwis memprediksi bahwa keberadaan beras oplosan itu juga bisa berdampak pada angka kemiskinan. Ia menguraikan, orang perkotaan bisa dibilang lebih banyak mengkonsumsi beras premium.
Baca Juga:Wamen Ekraf: IP Lokal Bisa Jadi Kunci Keberlanjutan LingkunganMisi Gelap Gagal Total: Narkoba Masuk Rutan Kebonwaru Digagalkan Petugas
Lalu dalam catatan terakhir menunjukkan bahwa angka kemiskinan di perkotaan menunjukkan trend kenaikan. “Kemungkinan ada korelasi atau hubungannya. Ini (isu beras oplosan.red), kalau ditangani dengan baik akan bisa memperbaiki tingkat kemiskinan juga,” jelasnya.
Darwis menguraikan, dalam hasil survei terbaru yang dilakukan, mencatat bahwa garis kemiskinan periode Maret adalah Rp 547.752,- per kapita per bulan. Terinci dari garis kemiskinan makanan sebesar Rp 391.347,- dan garis kemiskinan non makanan Rp 132.705,-.
Kemudian jika diuraikan, ada sejumlah komoditas yang menyumbang garis kemiskinan. Dan itu terbesar adalah beras. Rinciannya adalah sebagai berikut.
Di perkotaan pada garis kemiskinan makanan, beras menyumbang 22,03 persen. Kemudian disusul rokok kretek filter 11,12 persen, telur ayam ras 5,11 persen, daging ayam ras 4,93 persen, dan kopi bubuk 3,57 persen.
Sedangkan non makanan komoditas tertinggi adalah perumahan dengan 9,74 persen. Disusul bensin 2,44 persen, listrik 2,13 persen, pendidikan 1,79 persen dan perlengkapan mandi 1,32 persen.
Hal serupa di perdesaan. Beras menyumbang 26,78 persen dalam garis kemiskinan di sektor makanan.
Darwis berharap ada penanganan lebih cermat dan baik dalam isu beras oplosan ini. Sehingga tidak sampai menimbulkan gejolak di masyarakat. Sehingga perekonomian bisa terkendali.
Baca Juga:Setelah Sekian Lama Menunggu, Honor Guru PAUD Banjar Akhirnya Tuntas Dibayar!3,65 Juta Warga Jabar Masih Miskin, Angka Pengangguran di Kota Jadi Sebabnya
Di sisi lain, isu beras oplosan itu mencuat beberapa hari terakhir. Itu dari temuan Kementerian Pertanian. Sejumlah beras premium yang beredar di pasaran diduga dioplos.(son)
