Trump Sebut Bebas Akses Mineral RI Imbas Tarif Impor AS 19 Persen, ESDM: Tidak Terlalu Berdampak Sih

Trump Sebut Bebas Akses Mineral RI Imbas Tarif Impor AS 19 Persen, ESDM: Tidak Terlalu Berdampak Sih
Ilustrasi: Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno (tengah) saat menghadiri ASEAN Mining Conference, 18 November 2024. (Dok. Kementerian ESDM)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno menilai penetapan tarif impor AS yang diturunkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak berdampak terhadap mineral RI.

“Kalau free access, selama ini kan kita memang open saja, kan, untuk mineral, ya, kita open. Siapa yang mau beli dari kita silahkan saja. Jadi ya, tidak terlalu (berdampak), sih,” ujarnya di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, dikutip Kamis (17/7/2025).

Sebelumnya, Trump menetapkan tarif impor AS terhadap Indonesia menjadi 19 persen dari semula 32 persen. Itu setelah adanya negosiasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia dengan AS.

Baca Juga:Brigjenpol Nunung Syariffudin Tancap Gas, Targetkan Kebangkitan Timnas Pencak Silat di SEA Games 2025Dosen Praktisi Unpak Beri Motivasi Usaha untuk Gen Z : Mengubah Ide Menjadi Realitas

Namun di balik kesuksesan pemerintah menurunkan tarif impor tersebut, Trump memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan publik.

Ia ingin mengakses penuh komoditas unggulan Indonesia, termasuk sumber daya mineral seperti tembaga.

“Indonesia sangat kuat dalam hal tembaga. Tapi kami punya akses penuh ke semua itu. Kami tidak akan membayar tarif apapun,” ujar Trump, dikutip Kamis.

“Jadi mereka memberikan kami akses ke Indonesia yang tidak pernah kami miliki sebelumnya,” sambung dia.

Selain pemberlakuan tarif impor 19 persen itu, dalam negosiasi tersebut juga mencapai kesepakatan bahwa RI membeli energi dari AS senilai 15 miliar dolar AS.

Kesepakatan ini berpotensi terhadap peralihan impor bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura ke AS. Menanggapi itu, Tri menyampaikan bahwa hal tersebut akan dipertimbangkan melalui dua faktor.

“Prinsipnya kan keekonomian dan geopolitik, itu saja, kan. Ya sepanjang itu menguntungkan kita, kenapa tidak?” kata dia.

Baca Juga:Korupsi Laptop Chromebook Direncanakan Sebelum Nadiem jadi Menteri?Batal Umumkan Angka Kemiskinan Penduduk, Ini Alasan BPS!

Di sisi lain, Vice Presiden Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah mitra di AS.

Hal itu, kata dia, dilakukan sebagai optimalisasi pengadaan feedstock atau minyak mentah untuk kilang-kilang Pertamina di Indonesia beberapa waktu lalu.

Terkait volume dan nilainya, dia mengatakan bahwa hal tersebut belum bisa disampaikan karena memang masih dalam proses negosiasi dan terus berkembang.

Selain itu, Fadjar mengatakan pula bahwa Pertamina juga membuka kemungkinan terkait dengan optimalisasi peningkatan Liquefied Petroleum Gas atau LPG.

0 Komentar